Bandung Raya Inspirasi Jawa Barat
Home » Berita » 500 Anak Cerebral Palsy Bersatu Rayakan WCPD Bandung

500 Anak Cerebral Palsy Bersatu Rayakan WCPD Bandung

Bandung, garudajabar.tv – Peringatan World Cerebral Palsy Day (WCPD) 2026 menjadi momentum untuk memperkuat dukungan terhadap penyandang cerebral palsy sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai hak dan kesetaraan bagi penyandang disabilitas. Kegiatan yang diselenggarakan Komunitas Keluarga Cerebral Palsy Bandung Raya (KKCPBR) bekerja sama dengan Yayasan Anak Bunda Istimewa (YABI) tersebut berlangsung di Hotel Horison, Kota Bandung, Minggu 1 November 2026.

Memasuki penyelenggaraan tahun kesembilan, kegiatan ini dihadiri sekitar 500 anak penyandang cerebral palsy dari lima kabupaten/kota di Bandung Raya, bersama 900 orang pendamping.

Pembina komunitas sekaligus penyelenggara WCPD 2026, Rika Yulianti, mengatakan kegiatan tahunan tersebut tidak sekadar menjadi peringatan, tetapi juga ruang pertemuan bagi anak-anak penyandang cerebral palsy dan keluarganya untuk saling menguatkan.

“Harapan kami melalui WCPD ini adalah memperkuat soliditas komunitas penyandang cerebral palsy dan Yayasan Anak Bunda Istimewa. Yang paling penting, kami ingin mengampanyekan bahwa mereka ada dan memiliki hak yang sama serta setara,” ujar Rika.

Menurutnya, rangkaian kegiatan tahun ini melibatkan dukungan dokter spesialis dan dokter residen dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Mereka memberikan edukasi kepada keluarga, termasuk penyuluhan mengenai kemampuan menelan pada anak penyandang cerebral palsy.

Selesaikan Satu Masalah, Langkah Awal Selamatkan Generasi Masa Depan

Selain edukasi kesehatan, kegiatan diisi dengan flashmob atau gerakan bersama, serta penampilan seni dan kreativitas anak-anak penyandang cerebral palsy bersama keluarganya. Berbagai karya seperti lukisan, buku, kerajinan rajutan, dan hasil keterampilan lainnya juga dipamerkan kepada pengunjung.

Rika menjelaskan, keterlibatan anak dan keluarga dalam berbagai penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun keberanian serta kepercayaan diri. Pihaknya juga mengundang pemerintah, pemangku kepentingan, dan komunitas lainnya agar semakin mengenal serta memberikan dukungan terhadap keberadaan penyandang cerebral palsy.

“Kami ingin orang tua bisa lebih bahagia dan kuat. Ketika mereka berkumpul di satu tempat, mereka merasa tidak sendiri karena bertemu dengan keluarga lain yang memiliki pengalaman serupa,” katanya.

Rika juga mengajak para orang tua yang memiliki anak cerebral palsy untuk bergabung dengan komunitas agar dapat saling berbagi pengalaman dan dukungan. Ia menyebut jumlah anggota komunitas terus bertambah setiap tahun, meskipun terdapat pula anggota yang meninggal dunia akibat kondisi kesehatan yang rentan. “Dari Januari hingga November 2026, kurang lebih 30 sampai 40 orang meninggal dunia. Anak-anak cerebral palsy memang memiliki kondisi kesehatan yang rentan,” ungkapnya.

Selain kegiatan komunitas, YABI juga menjalankan sejumlah program pendampingan, salah satunya layanan fisioterapi untuk membantu kebutuhan anak penyandang cerebral palsy.

Pegadaian Resmikan The Gade Creative Lounge di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dukung Ekosistem Pendidikan dan Kreativitas Mahasiswa

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, mengatakan penanganan penyandang disabilitas, termasuk cerebral palsy, tidak dapat dilakukan hanya melalui sektor kesehatan. Diperlukan keterlibatan lintas sektor, mulai dari pemerintah, keluarga, hingga komunitas.

Menurut Vini, upaya pencegahan perlu menjadi perhatian sejak sebelum kehamilan hingga masa tumbuh kembang janin. Edukasi mengenai kesehatan calon ibu, pemenuhan gizi, serta pencegahan dan penanganan infeksi selama kehamilan menjadi bagian penting.

“Disabilitas tidak bisa diselesaikan hanya oleh bidang kesehatan. Prinsipnya, kita harus mengedepankan upaya promotif dan preventif. Kita perlu memahami apa penyebab cerebral palsy dan bagaimana gejalanya, sehingga pencegahan bisa dilakukan sejak dini,” kata Vini.

Ia menjelaskan, sejumlah faktor yang perlu diperhatikan antara lain kondisi kesehatan ibu selama kehamilan, anemia, kekurangan gizi, serta infeksi tertentu, termasuk toksoplasma. Faktor genetik juga dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam memahami kondisi tersebut.

Dinkes Jawa Barat juga menerima masukan dari orang tua mengenai pembatasan usia untuk memperoleh layanan rehabilitasi medis melalui BPJS Kesehatan. Menanggapi hal tersebut, pihaknya berencana menyampaikan surat kepada BPJS Kesehatan agar ketentuan pembatasan usia tersebut dapat ditinjau kembali.

Tak Terima Ulama Dicaci Maki, Forum Umat Islam Bandung Bersatu Laporkan Herri Pras ke Polisi

“Kami mendapat masukan dari para orang tua terkait batasan usia rehabilitasi medis melalui BPJS. Kami akan bersurat kepada BPJS agar tidak ada pembatasan, karena cerebral palsy merupakan kondisi yang sulit disembuhkan dan membutuhkan penanganan serta rehabilitasi berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui peringatan WCPD 2026, penyelenggara berharap dukungan terhadap anak penyandang cerebral palsy tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Kesadaran masyarakat, akses layanan kesehatan, pendampingan keluarga, serta keterlibatan pemerintah diharapkan terus diperkuat agar penyandang cerebral palsy memperoleh kesempatan dan hak yang setara dalam kehidupan sosial.

.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

01

Menko Zulhas: Saya Tahu Keresahan Mitra BGN, Mitra Jangan Dikorbankan

02

Konflik Agraria di Langkaplancar Picu Ketakutan Warga, Jeje Desak Pemerintah Segera Mediasi

03

Puluhan Perajin di Ciamis Sulap Daun Pandan Jadi Produk Bernilai Ekspor, Libatkan Ibu Rumah Tangga hingga Remaja

04

Prameswari Galuh Luncurkan Batik ‘Cakra Galuh’ di Astana Gede Kawali

05

Tani Merdeka Jabar Somasi Kadis Pertanian Indramayu, Diduga Cemarkan Nama Organisasi

Berita Terbaru