Bandung Raya Jawa Barat
Home » Berita » Tanpa Perpeloncoan, MPLS di SMPN 43 Bandung Fokus Bentuk Karakter dan Etika Digital

Tanpa Perpeloncoan, MPLS di SMPN 43 Bandung Fokus Bentuk Karakter dan Etika Digital

Sebanyak 318 peserta didik baru di SMP Negeri 43 Bandung mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 dengan konsep edukatif tanpa praktik perpeloncoan. (Mugni/GarudaJabar.tv)

BANDUNG – Sebanyak 318 peserta didik baru di SMP Negeri 43 Bandung mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 dengan konsep edukatif tanpa praktik perpeloncoan.

Selama kegiatan, para siswa dibekali pendidikan karakter, etika bermedia sosial, hingga kesiapsiagaan menghadapi bencana sebagai bekal memasuki lingkungan sekolah.

Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 43 Bandung Elis Rahmawati mengatakan, MPLS dilaksanakan selama lima hari dengan materi yang mengacu pada ketentuan Kementerian Pendidikan serta disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik baru agar mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

“Selama lima hari. Untuk hari ini pematerinya berasal dari narasumber internal, yaitu guru-guru di sekolah. Besok akan ada materi wajib dan juga materi pilihan. Materi wajib sesuai arahan Kementerian, seperti Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Sapa Pagi Ceria, Etika Bermedia Sosial, serta Budaya Salam Sapa 5S. Semua itu sudah kami laksanakan,”kata Elis di SMPN 43 Bandung, Senin (13/7/2026).

Selain materi wajib, sekolah menghadirkan materi pilihan yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa, dengan melibatkan sejumlah instansi.

Lamine Coffee & Bakery Hadir di Pangandaran, Tawarkan Kuliner hingga Fasilitas Olahraga

“Untuk materi pilihan kami sesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Misalnya materi tanggap bencana kami mengundang BPBD. Kemudian untuk edukasi kesehatan dan gizi kami bekerja sama dengan Puskesmas setempat. Jadi anak-anak mendapatkan bekal yang lebih lengkap,” katanya.

Pada tahun ajaran 2026/2027, SMPN 43 Bandung menerima 318 peserta didik baru yang terbagi ke dalam sembilan rombongan belajar.

“Untuk siswa baru saat ini berjumlah 318 orang yang terbagi dalam sembilan rombongan belajar. Mudah-mudahan tidak ada penambahan lagi,” ucapnya.

Elis menambahkan, bahwa sekolah menerapkan kebijakan nol toleransi terhadap senioritas dan perpeloncoan. Selama MPLS, pengurus OSIS hanya bertugas sebagai pendamping yang membantu siswa baru mengenal lingkungan sekolah.

KSP: Sekolah Rakyat Harus Jadi Jalan Memutus Rantai Kemiskinan

“Untuk senioritas tidak ada, apalagi perpeloncoan. Kami justru meminta bantuan pengurus OSIS untuk menjadi pendamping bagi adik-adik kelasnya selama kegiatan berlangsung,” jelasnya.

Sementara itu, salah seorang peserta didik baru Aqilah mengaku, gembira dapat diterima di sekolah yang telah lama menjadi pilihannya. Ia berharap dapat meraih prestasi sekaligus mewujudkan cita-citanya menjadi pelukis.

“Saya memang ingin sekolah di sini. Cita-cita saya ingin menjadi pelukis. Semoga bisa berprestasi dan mendapat nilai yang tinggi,” kata aqila.

Aqilah mengaku hari pertama MPLS berlangsung menyenangkan karena bisa berkenalan dengan guru dan teman-teman baru.

“Seru. Tadi upacara, terus banyak kegiatan. Sudah kenal dengan guru dan teman-teman, bahkan sudah punya teman sebangku,”ucapnya.

Kustiwa Adinata Wakili JAMTANI di Dewan AOI Nasional, Dorong Penguatan Pertanian Organik di Pangandaran

Pengalaman serupa dirasakan Ferjian. Menurutnya, suasana MPLS terasa ramah dan membuat siswa baru nyaman karena tidak ada tindakan yang mengarah pada perpeloncoan.

“Senang bisa dapat teman baru. Hari pertama seru. Tidak takut karena tidak ada yang menyuruh macam-macam atau perpeloncoan,” kata Ferjian.

(Mugni)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *