garudajabar.tv — Perubahan ekosistem media digital mulai memengaruhi ketahanan nasional dan kondisi psikologis generasi muda. Temuan tersebut terungkap dalam riset Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat terhadap 601 responden Gen Z berusia 15–24 tahun.
Hasil riset dipaparkan Ketua KPID Jawa Barat, Dr. Adiyana Slamet, dalam seminar “5+1 Broadcasting Perspective Digital Era” di Bandung Creative Hub (BCH), Senin (10/8/2026). Kegiatan tersebut bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung (STIKOM Bandung).
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan kuesioner skala Likert dan metode proportional cluster sampling. Responden tersebar di enam klaster wilayah Jawa Barat.
Adiyana mengatakan riset tersebut mengukur lima aspek ketahanan nasional atau Pancagatra, yakni ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan.
Pada aspek ideologi, sebanyak 76,71 persen responden mendukung Pancasila di ruang digital. Namun, KPID menemukan ancaman berupa infiltrasi ideologi asing dan echo chamber yang dapat mempercepat penyebaran paham tertentu.
Di bidang politik, 80 persen responden mendukung regulasi konten. Namun, 80,20 persen mengaku pandangan politik mereka terbentuk oleh media sosial.
“Sebanyak 99,8 persen responden menggunakan media sosial. Ini menunjukkan besarnya peran media digital dalam membentuk persepsi politik generasi muda,” kata Adiyana.
Pada aspek ekonomi, sebanyak 89,18 persen responden menunjukkan antusiasme terhadap ekonomi kreatif digital. Meski demikian, riset juga menemukan tantangan berupa dominasi platform asing, kebocoran nilai ekonomi, dan kesenjangan akses digital antarwilayah.
Sementara itu, 73,21 persen responden menilai media digital dapat memperkuat budaya lokal. Sebanyak 77 persen juga tertarik terhadap konten Sunda. Namun, 52,41 persen mengakui adanya pengaruh budaya asing.
Dalam aspek pertahanan dan keamanan, 85,19 persen responden memiliki kesadaran terhadap keamanan data. Namun, 86,35 persen mengaku pernah mengalami atau mengetahui penyalahgunaan data, termasuk doxing.
“Karena itu, kami mendorong revisi UU Penyiaran agar regulasi mampu menghadapi infiltrasi dan propaganda ideologi asing,” ujar Adiyana.
Lima Dampak Psikologis Media Digital

Wakil Ketua KPID Jawa Barat, Dr. Almadina Rakhmaniar, memaparkan lima dampak psikologis penggunaan media digital, yakni nomophobia, gangguan fokus dan konsentrasi, stres mental, social comparison, serta phubbing dan pergeseran interaksi sosial.
Riset mencatat 38,10 persen responden mengalami gejala nomophobia, yaitu kecemasan ketika tidak dapat mengakses telepon pintar.
Selain itu, 68,39 persen responden mengaku mengalami gangguan fokus dan konsentrasi akibat media digital.
Sebanyak 52,41 persen responden menyatakan media sosial memengaruhi kondisi mental mereka. Sementara 50,08 persen mengaku mengalami stres akibat social comparison atau membandingkan diri dengan tokoh yang mereka ikuti di media sosial.
“Paparan konten dapat memicu rasa inferior, menurunkan kepercayaan diri, dan meningkatkan kecemasan,” kata Almadina.
Temuan lainnya adalah phubbing, yaitu kecenderungan mengabaikan interaksi langsung karena lebih fokus pada perangkat digital. Lebih dari 70 persen responden mengalami kondisi tersebut.
Menurut Almadina, penggunaan aplikasi pesan instan juga mulai mengubah pola interaksi dalam keluarga.
“Sekarang seorang ibu bisa menggunakan WhatsApp untuk mengajak anaknya makan bersama, padahal anaknya berada di kamar. Tidak perlu memanggil secara langsung. Ini menunjukkan adanya pergeseran interaksi sosial akibat media digital,” ujarnya.
STIKOM Bandung Dorong Sikap Kritis
Ketua STIKOM Bandung, Dr. Dedy Djamaluddin, M.S., mengatakan perubahan ekosistem media semakin kompleks dengan hadirnya konvergensi media, algoritma, dan kecerdasan buatan atau *Artificial Intelligence* (AI).
Menurut Dedy, AI tidak lagi sekadar menjadi alat bantu, tetapi juga dapat memengaruhi cara masyarakat menerima dan mengolah informasi.
“Sikap kritis dan etika menjadi krusial saat memanfaatkan AI agar identitas dan nilai-nilai bangsa tidak kabur,” kata Dedy.
Ia menilai riset KPID Jawa Barat dapat menjadi bahan pengembangan penelitian lanjutan bagi dosen dan sivitas akademika STIKOM Bandung.
Wakil Ketua I Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Kerja Sama STIKOM Bandung sekaligus penanggung jawab kegiatan, Muhammad Farid, S.Sos., M.I.Kom., mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempertemukan regulator, industri, akademisi, dan mahasiswa untuk memahami perubahan ekosistem media.
“Industri dan perguruan tinggi punya korelasi jelas terkait penyerapan tenaga kerja. Masa depan industri penyiaran sangat bergantung pada lulusan kita, begitu pula sebaliknya,” ujar Farid.
Seminar tersebut turut dihadiri perwakilan industri penyiaran, antara lain Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Jawa Barat, TVRI, CNN, Garuda TV, serta pelaku industri televisi dan radio lainnya.


Komentar