Bandung Raya Jawa Barat
Home » Berita » Orang Tua Takut, SLB Karya Bakti Bandung Terancam Tutup karena Minim Siswa

Orang Tua Takut, SLB Karya Bakti Bandung Terancam Tutup karena Minim Siswa

Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Pendidikan Karya Bakti di Kecamatan Kiaracondong Kota Bandung menghadapi ancaman keberlangsungan akibat minimnya jumlah siswa. Kondisi lingkungan sekolah yang dinilai rawan keamanan disebut menjadi salah satu alasan orang tua takut mendaftarkan anaknya. (Mugni/GarudaJabar.tv)

BANDUNG- Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Pendidikan Karya Bakti di Kecamatan Kiaracondong Kota Bandung menghadapi ancaman keberlangsungan akibat minimnya jumlah siswa. Kondisi lingkungan sekolah yang dinilai rawan keamanan disebut menjadi salah satu alasan orang tua takut mendaftarkan anaknya.

Ketua SLB Yayasan Pendidikan Karya Bakti, Ummy Latifah mengatakan, jumlah siswa menjadi persoalan karena sekolah dengan peserta didik yang terlalu sedikit berisiko tidak lagi mendapatkan bantuan operasional sekolah (BOS) dan terancam ditutup.

“Sebenarnya sekitar 10 siswa juga sudah bisa ditutup dan sudah tidak dapat dana BOS. Tapi di sini lebih dari 10 siswa,” kata Ummy saat ditemui dilokasi Selasa (28/7/2026).

Menurutnya, sebanyak 16 siswa saat ini masih memungkinkan sekolah untuk beroperasi dan memperoleh dana BOS. Namun, pihak yayasan tetap berupaya menambah peserta didik agar keberlangsungan sekolah terjaga.

Ummy menyebut persoalan minimnya siswa tidak semata-mata karena kurangnya minat. Sebagian orang tua sebenarnya tertarik mendaftarkan anaknya, tetapi mengurungkan niat karena khawatir dengan kondisi lingkungan sekitar sekolah.

Lamine Coffee & Bakery Hadir di Pangandaran, Tawarkan Kuliner hingga Fasilitas Olahraga

“Iya, sedikit siswanya yang berminat ke sini. Banyak yang daftar ke sini, tapi pada takut daftar ke sini,” katanya.

Ummy mengungkapkan, lingkungan sekitar sekolah masih menghadapi persoalan keamanan. Di antaranya keberadaan warga yang kerap mabuk hingga tindakan intimidasi terhadap pihak sekolah.

Menurut Ummy, pengurus yayasan sebelumnya bahkan pernah mendapatkan ancaman menggunakan golok. Sementara intimidasi yang terjadi belakangan berupa orang yang masuk ke area sekolah tanpa izin hingga meminta uang.

“Kalau dulu, ketua yayasan yang dulu sampai diancam pakai golok. Kalau saya mungkin perempuan, terus saya ajak ngobrol,” ungkapnya.

KSP: Sekolah Rakyat Harus Jadi Jalan Memutus Rantai Kemiskinan

Lebih lanjut Ummy mengatakan, kondisi tersebut membuat lingkungan sekolah dinilai kurang layak bagi lembaga pendidikan, terlebih SLB yang membutuhkan lingkungan aman dan nyaman bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Selain persoalan keamanan, kondisi bangunan juga menjadi kekhawatiran. Sejumlah bagian bangunan telah lapuk dan dikhawatirkan ambruk jika hujan berlangsung terus-menerus.

“Dinding atas sudah rusak, itu bisa ambruk. Kalau hujannya terus-terusan, hujan tiga bulan saja ini bisa ambruk,” ujarnya.

Di tengah ancaman keamanan dan kondisi bangunan yang tidak layak, pihaknya pun mempertimbangkan memindahkan sekolah ke lokasi yang lebih aman. Namun, keputusan itu bukan perkara mudah karena ia juga masih memikirkan nasib anak-anak di sekitar sekolah yang membutuhkan akses dan pendampingan pendidikan.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi pendidikan di lingkungan sekitar, yayasan berencana membuka Rumah Belajar mulai bulan depan. Program tersebut ditujukan untuk membantu anak-anak yang masih menghadapi persoalan pendidikan, termasuk belum bisa membaca hingga mengalami masalah kenaikan kelas.

Kustiwa Adinata Wakili JAMTANI di Dewan AOI Nasional, Dorong Penguatan Pertanian Organik di Pangandaran

“Keberadaan yayasan juga harus bersatu dengan lingkungan. Mungkin itu bisa meminimalisir gangguan keamanan,” katanya.

Di tengah keterbatasan tersebut, SLB Karya Bakti juga masih kekurangan sejumlah fasilitas pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus. Di antaranya alat terapi seni, terapi visual, alat musik, serta perangkat edukasi lainnya.

Ummy menambahkan, meski jam belajar hanya berlangsung pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, sejumlah anak justru memilih bertahan di sekolah hingga sekitar pukul 14.00 WIB.

“Anak-anak kadang pulangnya jam 14.00, tidak mau pulang. Karena mungkin kondisi rumah. Mereka di sini bisa lari-lari, ada temannya juga,” pungkasnya.

(Mugni)

Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Pendidikan Karya Bakti di Kecamatan Kiaracondong Kota Bandung menghadapi ancaman keberlangsungan akibat minimnya jumlah siswa. Kondisi lingkungan sekolah yang dinilai rawan keamanan disebut menjadi salah satu alasan orang tua takut mendaftarkan anaknya.
(Mugni/GarudaJabar.tv)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *