Pangandaran, garudajabar.tv – Keterwakilan Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (JAMTANI) dalam Dewan Perwakilan Anggota (DPA) Aliansi Organis Indonesia (AOI) periode 2026–2029 diharapkan dapat memperkuat sinergi petani organik dengan pemerintah daerah serta memperluas pengembangan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Kustiwa Adinata, Direktur JAMTANI, terpilih sebagai anggota DPA AOI dalam Rapat Umum Anggota (RUA) IX AOI. Keterwakilan tersebut diharapkan menjadi ruang strategis untuk memperkuat aspirasi petani organik di tingkat nasional sekaligus mendorong dukungan kebijakan dan program pertanian berkelanjutan di daerah.
Ke depan, JAMTANI berencana memperkuat kolaborasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran melalui pemanfaatan fasilitas Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Climate Learning Center (CLC). Kolaborasi ini diharapkan dapat diintegrasikan dengan program penyuluhan pertanian pemerintah daerah guna mempercepat transisi menuju pertanian organik sekaligus meningkatkan kemampuan petani dalam menghadapi perubahan iklim.
Perkuat Posisi Petani Organik
Kustiwa Adinata mengatakan, keterwakilan JAMTANI dalam struktur AOI nasional menjadi kesempatan untuk memperkuat suara petani organik Pangandaran dalam gerakan pertanian organik di tingkat nasional.

Menurutnya, posisi tersebut diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi daerah untuk memperoleh dukungan, baik dalam pengembangan kapasitas petani, pendampingan, maupun perluasan praktik pertanian ramah lingkungan.
Pangandaran, sebagai salah satu destinasi wisata di Jawa Barat, dinilai memiliki potensi untuk mengembangkan keterkaitan antara sektor pertanian organik dan pariwisata. Potensi kunjungan wisatawan dapat menjadi peluang pasar bagi produk pertanian sehat yang dihasilkan petani lokal.
Namun, kata Kustiwa, peluang tersebut perlu diikuti dengan upaya membangun hubungan yang lebih kuat antara petani sebagai produsen dan pelaku usaha pariwisata, khususnya hotel dan restoran.
” Kami menyoroti bahwa pertumbuhan usaha perhotelan di Pangandaran perlu diimbangi dengan peningkatan perhatian terhadap penggunaan bahan pangan sehat dan produk pertanian organik dari petani lokal,” Ungkapnya.
Padahal, JAMTANI bersama para petani telah mengembangkan berbagai produk pertanian yang mengedepankan prinsip organik, rendah emisi, dan ramah iklim. Tantangan berikutnya adalah membangun rantai pasok yang mampu menghubungkan produk-produk tersebut dengan kebutuhan pasar, termasuk sektor perhotelan dan usaha kuliner.
“Dengan keindahan alam dan potensi pariwisata Pangandaran, ke depan peluang pengembangan pasar produk pertanian organik sangat terbuka. Bagaimana kita memanfaatkan momentum ini agar hasil pertanian organik dapat sampai ke tangan konsumen, baik wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Pangandaran,” ujar Kustiwa.
Menurutnya, sinergi antara petani, pemerintah daerah, dan pelaku usaha pariwisata diperlukan agar pertanian organik tidak hanya berkembang di tingkat produksi, tetapi juga memiliki akses pasar yang berkelanjutan.
Dinas Pertanian Dukung Pengembangan Pertanian Organik
Dukungan terhadap pengembangan pertanian organik juga disampaikan oleh Rian Darmawan, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran.
Rian menyatakan bahwa pihaknya mendukung keterlibatan JAMTANI dalam gerakan AOI serta berbagai kegiatan yang mendorong pengembangan pertanian organik di Pangandaran.
“Kami sangat mendukung kehadiran AOI di Pangandaran dan keterlibatan JAMTANI di dalamnya. Kami juga mendukung kegiatan para petani organik,” kata Rian.
Ia menilai pengembangan pertanian organik penting untuk mendorong praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan, terutama di tengah penggunaan bahan kimia pertanian yang perlu dikelola secara bijak agar tidak berdampak buruk terhadap kualitas tanah.
Terkait dukungan kebijakan, Rian menjelaskan bahwa pembentukan peraturan daerah membutuhkan proses dan waktu. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Pangandaran melalui Dinas Pertanian akan mendorong upaya penyusunan regulasi yang dapat mendukung pengembangan pertanian organik di daerah.
“Kami dari Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran akan mendorong dan mencoba menyusun peraturan bupati terkait pertanian organik,” ujarnya.
Upaya tersebut diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan pertanian organik yang lebih terarah, sekaligus memperkuat peran petani dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan kualitas hasil pertanian.
Menghubungkan Pertanian Organik dan Pariwisata
Pengembangan pertanian organik di Pangandaran membutuhkan dukungan lintas sektor. Selain pembinaan dan pendampingan petani, perlu ada langkah konkret untuk mempertemukan produsen dengan konsumen, termasuk hotel, restoran, dan pelaku usaha pariwisata lainnya.
Melalui kolaborasi antara JAMTANI, AOI, Dinas Pertanian, dan pelaku usaha, produk pertanian organik lokal berpeluang memperoleh akses pasar yang lebih luas. Di sisi lain, sektor pariwisata dapat ikut mendorong permintaan terhadap pangan sehat dan produk yang dihasilkan melalui praktik pertanian berkelanjutan.
Keterwakilan JAMTANI dalam DPA AOI periode 2026–2029 diharapkan menjadi salah satu pengungkit untuk memperkuat kerja sama tersebut. Dengan dukungan program penyuluhan, peningkatan kapasitas petani, penguatan kebijakan, dan perluasan akses pasar, Pangandaran berpeluang mengembangkan pertanian organik yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi petani serta mendukung keberlanjutan lingkungan dan pariwisata daerah.


Komentar