Uncategorized
Home » Berita » Kota Bandung Kirim 40 Pekerja ke Jepang, Disnaker: Kebutuhan Masih Ribuan Orang

Kota Bandung Kirim 40 Pekerja ke Jepang, Disnaker: Kebutuhan Masih Ribuan Orang

Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bandung Yayan Ahmad Brilyana Saat Menghadiri Kegiatan Job Fair Future Connect 2026 digelar di Miko Mall, Jalan Raya Kopo, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Kamis (30/7/2026) (Mugni/GarudaJabar.tv)

BANDUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus memperluas akses kerja bagi masyarakat melalui berbagai program penempatan tenaga kerja. Selain membuka sekitar 3.000 lowongan kerja lewat Job Fair Future Connect 2026, Pemkot juga memfasilitasi 40 warga Kota Bandung bekerja di Jepang dengan subsidi pelatihan bahasa.

Job Fair Future Connect 2026 digelar di Miko Mall, Jalan Raya Kopo, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Kamis (30/7/2026). Kegiatan yang merupakan job fair keempat sepanjang tahun ini diikuti 31 perusahaan dari berbagai sektor dengan menyediakan sekitar 3.000 lowongan kerja bagi lulusan SMP, SMA/SMK, Diploma, S1 hingga S2.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bandung, Yayan Ahmad Brilyana mengatakan, antusiasme masyarakat terhadap penyelenggaraan job fair terus meningkat. Pada setiap pelaksanaan, rata-rata sekitar 2.000 pencari kerja menghadiri kegiatan tersebut.

“Setiap job fair rata-rata dihadiri sekitar 2.000 pencari kerja. Untuk kegiatan kali ini tersedia sekitar 3.000 lowongan sementara yang mendaftar melalui sistem tiket sebanyak 1.500 orang,” kata Yayan di Miko Mall, Kamis (30/7/2026).

Selain mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan, Disnaker Kota Bandung juga melepas 40 warga yang akan bekerja di Jepang melalui kerja sama dengan sejumlah Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Mereka akan bekerja selama tiga tahun di berbagai sektor, mulai dari perawatan lansia (caregiver), pengolahan makanan, restoran, hingga konstruksi.

Lamine Coffee & Bakery Hadir di Pangandaran, Tawarkan Kuliner hingga Fasilitas Olahraga

Menurutnya, program penempatan kerja ke Jepang menjadi salah satu strategi untuk menekan angka pengangguran sekaligus membuka peluang masyarakat memperoleh penghasilan yang lebih baik.

“Kesempatan bekerja di Jepang sangat besar. Bahkan agensi dari Jepang menyampaikan masih ada ribuan kebutuhan tenaga kerja dan mereka sangat tertarik dengan pekerja asal Kota Bandung karena dikenal ulet, terampil, dan kreatif,” katanya.

Namun, ia mengingatkan para pekerja agar menjaga nama baik Kota Bandung selama bekerja di luar negeri.

“Mereka sangat sensitif terhadap perilaku negatif. Kalau ada pelanggaran, bukan hanya individu yang terkena dampaknya tetapi citra Kota Bandung juga bisa tercoreng bahkan berpotensi masuk daftar hitam,” jelasnya.

Untuk meringankan beban calon pekerja migran, Pemkot Bandung memberikan subsidi pelatihan bahasa Jepang hingga level N5 senilai sekitar Rp10 juta per orang. Sementara biaya tiket, visa, hingga keberangkatan difasilitasi melalui kerja sama dengan perbankan dan pihak Jepang, dengan skema pembayaran yang dapat dicicil setelah peserta mulai bekerja.

KSP: Sekolah Rakyat Harus Jadi Jalan Memutus Rantai Kemiskinan

“Kami mensubsidi pelatihan bahasanya. Untuk biaya lainnya ada yang dibantu perbankan maupun pihak Jepang sehingga peserta bisa berangkat tanpa harus menyiapkan biaya besar di awal,” ungkapnya.

Yayan menilai minat warga Kota Bandung untuk bekerja di luar negeri masih perlu ditingkatkan. Selama ini, peserta program justru didominasi oleh warga dari luar daerah seperti Indramayu dan Majalengka.

Karena itu, Disnaker akan terus melakukan sosialisasi agar masyarakat lebih terbuka terhadap peluang kerja internasional yang dinilai menjanjikan.

“Jangan ragu mencari peluang di luar negeri. Pulang ke Indonesia nanti sudah punya pengalaman, budaya kerja yang baik, kemampuan bahasa, sekaligus modal usaha,” ucapnya.

Sementara itu, Founder LPK Ohm, Rizal Ansory, menjelaskan pelepasan tenaga kerja kali ini melibatkan tiga lembaga pelatihan, yakni LPK Bahana, LPK Hikari Senseiku, dan LPK Ohm dengan total 40 peserta.

Kustiwa Adinata Wakili JAMTANI di Dewan AOI Nasional, Dorong Penguatan Pertanian Organik di Pangandaran

Menurutnya, meski program subsidi pelatihan dari Disnaker berlangsung sekitar tiga bulan, rata-rata peserta menjalani pembinaan hingga enam bulan sebelum diberangkatkan.

“Peserta tidak hanya belajar bahasa Jepang, tetapi juga budaya kerja, disiplin, mental, dan fisik agar siap menghadapi lingkungan kerja di Jepang,” kata Rizal.

Rizal menambahkan, peserta diberangkatkan secara bertahap mulai bulan ini hingga akhir tahun sesuai kebutuhan perusahaan penerima di Jepang.

“Macam-macam. Kalau dari LPK Ohm ada yang berangkat bulan ini sampai nanti akhir tahun,” katanya.

(Mugni)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *