Ekonomi Dan Bisnis Jawa Barat Pangandaran
Home » Berita » JAMTANI dan BRIN kembangkan demofarm pertanian rendah emisi di Pangandaran

JAMTANI dan BRIN kembangkan demofarm pertanian rendah emisi di Pangandaran

Pangandaran, garudajabar.tv – Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (JAMTANI) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan lahan percontohan atau demofarm pertanian terintegrasi rendah emisi di Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Program riset terapan tersebut resmi dimulai melalui peluncuran dan penanaman perdana pada Rabu (9/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan petani kecil dalam menghadapi perubahan iklim melalui penerapan sistem pertanian sirkular yang ramah lingkungan.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran Yadi Gunawan, koordinator penyuluh pertanian, perwakilan Pemerintah Desa Babakan, tim peneliti BRIN, serta sejumlah petani peserta Sekolah Lapang Iklim Agribisnis atau Climate Business Field School (CBFS).

Di lahan demofarm, petani akan mengembangkan empat komoditas hortikultura, yaitu bawang merah varietas Bima Brebes, cabai rawit Ori, mentimun, dan melon.

Pola pertanian terintegrasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan unsur hara, mengurangi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem, sekaligus menjaga keberlanjutan pendapatan petani.

Lamine Coffee & Bakery Hadir di Pangandaran, Tawarkan Kuliner hingga Fasilitas Olahraga

Dalam pelaksanaannya, JAMTANI dan BRIN menerapkan pemupukan berimbang dengan memadukan pupuk kandang matang dan inokulum hayati berbasis konsorsium mikroba antagonis formulasi BN-165.

Selain itu, sejumlah biopestisida ramah lingkungan, seperti BioSalima, TurfaMet, dan Agonal, turut digunakan untuk mendukung pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Riset ini tidak hanya berfokus pada produktivitas tanaman, tetapi juga menguji efektivitas pengendalian penyakit layu Fusarium serta mengurangi dan menurunkan emisi gas rumah kaca, khususnya dinitrogen oksida (N₂O) dan karbon dioksida (CO₂).

Konsep ekonomi sirkular juga diterapkan dengan memanfaatkan limbah organik dan kotoran ternak di sekitar kawasan pertanian sebagai sumber nutrisi tanaman. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sintetis.

Operasional lahan juga didukung dengan pemanfaatan energi surya sebagai sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

KSP: Sekolah Rakyat Harus Jadi Jalan Memutus Rantai Kemiskinan

Direktur JAMTANI Indonesia, Kustiwa Adinata, mengatakan program tersebut merupakan salah satu upaya untuk memperkenalkan pertanian terintegrasi yang dapat diterapkan pada musim hujan maupun kemarau.

“Ini adalah salah satu upaya kami mempromosikan pertanian terintegrasi pada saat musim hujan dan kemarau. Seperti saat ini, kami menanam bawang merah, cabai rawit, mentimun, dan melon,” ujar Kustiwa.

Menurutnya, aspek penting lainnya dalam program tersebut adalah penerapan pertanian rendah emisi dengan mengurangi ketergantungan terhadap pestisida dan pupuk kimia sintetis.

“Dalam demofarm ini kami menerapkan perlakuan yang lebih ramah lingkungan. Kami juga akan menghitung seberapa besar kontribusinya dalam menekan emisi CO₂, N₂O, dan CH₄,” katanya.

Kustiwa menjelaskan, konsep ekonomi sirkular menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan demofarm. Limbah hasil produksi diharapkan dapat kembali dimanfaatkan sebagai bagian dari sarana input untuk kegiatan pertanian berikutnya.

Kustiwa Adinata Wakili JAMTANI di Dewan AOI Nasional, Dorong Penguatan Pertanian Organik di Pangandaran

“Kami mencoba mempromosikan bagaimana sarana input dan hasil produksi dapat bersirkulasi. Artinya, hasil akhir produksi di lapangan dapat menjadi awal untuk sarana input berikutnya. Termasuk penggunaan biopestisida dan biopupuk yang kami promosikan dalam program ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, pihaknya juga akan menghitung nilai ekonomi dari masing-masing komoditas untuk melihat potensi pengembangan pertanian tersebut dalam skala yang lebih luas.

“Harapannya, kami bisa mengetahui seberapa jauh nilai ekonomi dari masing-masing komoditas dan kemudian menghitung bagaimana pengembangannya dalam skala yang lebih luas. Misalnya, dengan luasan satu hektare dapat menghasilkan berapa,” katanya.

Selain pemanfaatan pupuk organik, JAMTANI juga mendorong petani memanfaatkan limbah pertanian, seperti jerami dan sekam padi.

Jerami, kata Kustiwa, tidak seharusnya dibakar setelah panen. Limbah tersebut dapat dimanfaatkan dan dibenamkan ke dalam tanah atau digunakan sebagai mulsa untuk membantu mempertahankan kelembapan tanah.

“Jerami tidak untuk dibakar setelah panen, tetapi bisa dimanfaatkan dan dibenamkan. Setelah ditanam, jerami juga dapat digunakan sebagai mulsa sehingga tingkat kelembapan tanah lebih terjaga,” ujarnya.

Sementara itu, sekam padi dapat dimanfaatkan sebagai media tanam, khususnya untuk tanaman dalam polibag, dengan mencampurkannya bersama kompos organik.

Menurut Kustiwa, pemanfaatan bahan organik tersebut diharapkan mampu membantu mengikat karbon sekaligus menjaga stabilitas tanah dalam mempertahankan air.

“Biasanya air mudah hilang dan tanah cepat kering. Dengan adanya bahan organik, air diharapkan dapat bertahan lebih lama,” katanya.

Kustiwa juga menilai keberadaan Sekolah Lapang Iklim Agribisnis (CBFS) penting untuk mendorong regenerasi petani, khususnya di kalangan generasi muda.

Melalui sekolah lapang tersebut, petani tidak hanya belajar mengenai teknik budidaya, tetapi juga memahami aspek agribisnis mulai dari penyediaan input, produksi, pascapanen hingga pemasaran.

“Dengan sekolah lapang ini kami punya target untuk mempromosikan pertanian kepada anak-anak muda. Agribisnis menjadi penting karena tidak hanya berbicara tentang tanam dan menanam, tetapi juga keterlibatan dalam penyediaan input hingga pascapanen dan pemasaran,” tutur Kustiwa.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran, Yadi Gunawan, mengapresiasi kolaborasi JAMTANI dan BRIN dalam pengembangan pertanian rendah emisi serta pelaksanaan sekolah lapang bagi petani.

Menurut Yadi, kegiatan tersebut dapat membantu pemerintah daerah dan penyuluh pertanian dalam memberikan pendampingan serta meningkatkan kapasitas petani.

“Kolaborasi ini, khususnya pembinaan dan pelatihan terhadap petani yang dilakukan JAMTANI, tentu sangat membantu kami di bidang pertanian dan para penyuluh,” ujar Yadi.

Ia berharap program sekolah lapang tersebut dapat mendorong munculnya petani-petani muda di Kabupaten Pangandaran.

Menurutnya, regenerasi petani menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian karena semakin sulit menemukan generasi muda yang tertarik untuk terjun ke sektor pertanian.

“Harapannya, dari sekolah lapang ini akan tumbuh petani-petani muda yang lebih mencintai pertanian. Saat ini kita memang cukup sulit mencari petani muda atau petani milenial,” katanya.

Yadi menilai keberadaan sekolah lapang yang melibatkan generasi muda dapat menjadi salah satu upaya untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian sekaligus menciptakan generasi petani baru di Kabupaten Pangandaran.

Program riset lapangan JAMTANI dan BRIN tersebut dijadwalkan berlangsung hingga masa panen pada November 2026.

Selain menjadi lokasi penelitian, demofarm di Desa Babakan diharapkan dapat menjadi model pertanian tangguh iklim yang dapat dikembangkan dan direplikasi oleh kelompok tani lainnya di Kabupaten Pangandaran.

JAMTANI merupakan organisasi gerakan tani yang berfokus pada penguatan kemandirian petani kecil, regenerasi petani muda, kedaulatan benih dan pupuk alami, serta pengembangan pertanian regeneratif yang adaptif terhadap perubahan iklim.

 

(ERIS RISWANA)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *