BANDUNG – Ketua STIKOM Bandung, Dr. Dedy Djamaludin Malik, menerima penghargaan dari KPID Jawa Barat dalam kegiatan 5+1 Broadcasting Perspective Digital Era di Bandung Creative Hub, Kota Bandung, Senin (10/8/2026).
BANDUNG – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan masifnya arus informasi digital mendorong mahasiswa untuk lebih kritis dalam memilah informasi. Kemampuan tersebut dinilai penting agar perkembangan teknologi tetap diiringi pemahaman terhadap nilai dan etika.
Hal itu disampaikan Ketua STIKOM Bandung, Dr. Dedy Djamaludin Malik, dalam kuliah umum bertajuk “5+1 Broadcasting Perspective Digital Era” yang digelar Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat bersama STIKOM Bandung di Bandung Creative Hub, Kota Bandung, Senin (10/8/2026).

Dedy mengatakan AI saat ini menjadi fenomena yang sangat dominan dalam kehidupan masyarakat. Namun, perkembangan teknologi tersebut juga memiliki implikasi terhadap perkembangan pribadi, masyarakat, hingga nilai-nilai yang dianut.
“Karena itu kita menginginkan para mahasiswa itu kritis menilai informasi-informasi yang ada, sesuaikan dengan nilai-nilai yang ada, sambil tetap mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik,” ujar Dedy.
Menurut Dedy, transformasi media digital juga perlu diikuti pemahaman terhadap regulasi dan etika. Industri media tidak cukup hanya berpedoman pada peraturan, tetapi juga perlu menjadikan nilai-nilai etis sebagai pegangan dalam menjalankan aktivitas di media sosial.
STIKOM Bandung bersama KPID Jawa Barat juga mendorong penguatan riset mengenai perkembangan media digital, regulasi, serta kesiapan industri penyiaran menghadapi perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi.

Sementara itu, Ketua KPID Jawa Barat Adiyana Slamet mengatakan perubahan ekosistem media membutuhkan keseimbangan regulasi antara lembaga penyiaran konvensional dan platform digital.
“Harus diciptakan keseimbangan regulasi, bahwa lembaga penyiaran TV dan radio sudah diatur melalui Undang-Undang 32 dan P3S, media kebanyakan juga OTT, ISP, dan lain-lain, dan negara juga harus hadir,” kata Adiyana.
Kondisi tersebut sejalan dengan hasil riset KPID Jawa Barat yang dilakukan pada awal 2026. Riset menunjukkan 99,8 persen Gen Z di Jawa Barat merupakan pengguna media sosial.
YouTube menjadi sumber informasi dan hiburan yang paling banyak digunakan dengan 55,4 persen, disusul Instagram 34,3 persen dan TikTok 28,6 persen.
Meski media sosial semakin dominan, televisi dan radio masih memiliki tempat di kalangan Gen Z. Sebanyak 87 persen Gen Z di Jawa Barat masih menonton televisi, sedangkan sekitar 51 persen masih mendengarkan radio.
Namun, konsumsi televisi dan radio di kalangan Gen Z lebih banyak didominasi konten hiburan, gaya hidup, dan hobi. Sementara konsumsi konten berita di televisi tercatat hanya sekitar 8 persen.

Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut memberikan wawasan mengenai perkembangan media sekaligus perubahan perilaku audiens di era digital. Salah seorang mahasiswa menilai kegiatan tersebut memberikan kesempatan untuk belajar langsung mengenai media sosial dan penyiaran dari KPID Jawa Barat.
“Ilmu yang bermanfaat, relasi kita bisa belajar langsung dengan ketua KPID dan juga beberapa jajaran yang ada. Lebih mengenal tentang media sosial dan juga tentang materi psikologi yang ada di media. Ternyata masih banyak orang yang menonton TV dan mendengarkan radio,” ujarnya.
Melalui kolaborasi tersebut, KPID Jawa Barat dan STIKOM Bandung berharap mahasiswa tidak hanya memahami perkembangan teknologi dan media, tetapi juga mampu menjadi pengguna informasi yang kritis dan bertanggung jawab di tengah perubahan ekosistem media digital.
(CICI)


Komentar