Tasikmalaya, garudajabar.tv — Sebanyak 173 petani dari berbagai daerah mengikuti kegiatan Farmer Goes to Campus (FGC) yang diselenggarakan Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (JAMTANI) bersama Universitas Siliwangi (Unsil), Tasikmalaya.
Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara petani, mahasiswa, dan akademisi untuk mendorong inovasi pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim.
Peserta yang berasal dari berbagai kabupaten/ kota, termasuk luar Pulau Jawa, mengikuti diskusi dan pembelajaran bersama dalam enam kelompok. Mereka berbagi pengalaman mengenai pengelolaan usaha tani, pengembangan produk, hingga tantangan produksi dan pemasaran.
Melalui kegiatan ini, pengalaman petani di lapangan dipertemukan dengan pengetahuan akademik untuk mencari solusi yang sesuai dengan kebutuhan pertanian.
Enam Materi Pengembangan Pertanian
Peserta mendapatkan enam materi yang mencakup bidang agroteknologi, agribisnis, dan teknologi pengolahan hasil panen.
Di bidang agroteknologi, Indra Permana menyampaikan materi tentang deteksi cepat kesehatan tanah dan kualitas pupuk organik. Sementara itu, Ade Hilman membahas budidaya kelor organik serta pengolahan daun kelor menjadi teh bernilai ekonomi.
Pada bidang agribisnis, Gina Nurwadani membawakan materi pemasaran agribisnis, sedangkan Rizki Risanto Bahar membahas manajemen risiko usaha tani.
Adapun bidang teknologi pengolahan hasil panen menghadirkan Nur Arifah QA dengan materi teknologi pascapanen dan Visi Tinta Manik yang membahas inovasi produk olahan pangan.
Materi tersebut memberikan wawasan kepada peserta mengenai pentingnya menjaga kualitas tanah, mengelola risiko usaha, memperluas pemasaran, serta meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.
Kampus dan Petani Saling Belajar

Dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan, Indra Permana, menyambut positif pelaksanaan FGC. Menurutnya, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi petani untuk mengenal fasilitas kampus, termasuk laboratorium dan lahan percobaan.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, hasil penelitian dosen dapat disampaikan kepada petani sebagai mitra pengguna. Sebaliknya, kami juga belajar dari petani mengenai permasalahan di lapangan dan kebutuhan utama mereka,” ujar Indra.
Menurutnya, masukan dari petani dapat menjadi dasar penelitian yang lebih relevan dan berdampak bagi masyarakat.
Indra berharap kunjungan tersebut dapat meningkatkan semangat petani untuk mengembangkan usaha dan menghasilkan produk sendiri, seperti pupuk organik maupun olahan pangan. Ia juga menyebutkan bahwa Unsil telah menjalin kemitraan dalam pengembangan produk pupuk yang diterapkan kepada petani.
Melanjutkan Inovasi Petani Muda
Farmer Goes to Campus merupakan bagian dari perjalanan Young Cool Farmer Challenge (YCFC), inisiatif yang dijalankan melalui RYCAM untuk mendorong petani muda mengembangkan dan menerapkan inovasi berdasarkan potensi lokal.
Inovasi yang dikembangkan mencakup praktik pertanian organik, agroekologi, pemanfaatan sumber daya lokal, efisiensi penggunaan sumber daya, serta pengolahan hasil pertanian.
Direktur JAMTANI sekaligus Project Leader RYCAM, Kustiwa Adinata, mengatakan FGC menjadi langkah untuk memperluas ruang belajar dan kolaborasi bagi petani muda.
“Petani muda bukan hanya penerima pengetahuan, tetapi juga memiliki pengalaman dan inovasi yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi banyak pihak. Melalui kolaborasi dengan kampus dan mitra, inovasi tersebut diharapkan dapat dikaji, dikembangkan, dan memberikan manfaat yang lebih luas,” kata Kustiwa.
Ia menambahkan, pertanian tangguh iklim perlu didukung usaha tani yang layak secara ekonomi agar petani mampu mempertahankan produktivitas dan keberlanjutan usahanya.
Melalui kolaborasi antara petani, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat sipil, praktik baik di tingkat petani diharapkan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan lapangan.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa inovasi pertanian tidak hanya lahir dari laboratorium, tetapi juga dari pengalaman petani dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Dengan dukungan penelitian dan kemitraan, inovasi tersebut berpeluang berkembang menjadi solusi bagi pertanian Indonesia yang lebih tangguh dan berkelanjutan.


Komentar