Inspirasi
Home » Berita » Bertahun – tahun hidup dalam keterbatasan, Ma Ukay dan Titi dapat Rumah Layak Huni

Bertahun – tahun hidup dalam keterbatasan, Ma Ukay dan Titi dapat Rumah Layak Huni

Pangandaran, garudajabar – Bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan, Ukayesih (77) atau yang akrab disapa Ma Ukay, bersama putrinya Titi Mulyati (56), akhirnya mendapat perhatian langsung dari anggota DPR RI.

Kisah ibu dan anak yang tinggal di Dusun Kawarasan, Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, itu sebelumnya menyita perhatian banyak pihak. Kehidupan mereka yang penuh perjuangan menjadi gambaran nyata tentang ketabahan menghadapi kerasnya hidup di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi fisik yang tidak sempurna.

Ma Ukay mengalami gangguan pendengaran serta kesulitan berjalan akibat faktor usia dan kondisi kesehatannya. Sementara itu, Titi harus menjalani hidup sebagai penyandang disabilitas netra. Dengan kondisi tersebut, keduanya menjalani hari-hari dengan segala keterbatasan.

Sebelum bantuan datang keduanya hanya tinggal di gubuk sederhana berukuran sekitar 4 x 5 meter. Dengan dinding berbahan GRC dan atap asbes menaungi rumah yang jauh dari kata layak.

Ruang tamu sekaligus digunakan untuk memasak, sedangkan area tidur hanya dipisahkan sekat sederhana dengan kasur yang sudah tidak layak pakai.

Lamine Coffee & Bakery Hadir di Pangandaran, Tawarkan Kuliner hingga Fasilitas Olahraga

Berbagai barang tampak berserakan, bukan karena tidak terurus, melainkan akibat keterbatasan yang dihadapi sehari-hari.

Kesulitan hidup semakin terasa setelah Ma Ukay dan Titi tidak lagi memiliki sumber penghasilan. Usaha berdagang yang sebelumnya dijalankan di SMP Negeri 2 Padaherang terpaksa berhenti. Bahkan pada 2015, rumah yang mereka miliki harus dijual demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Jadi saya sama Ema di sini hidup sengsara. Makan kalau ada yang ngasih. Dulu kalau tidak ada yang ngasih beras, saya bingung harus makan dari mana,” ujar Titi kepada Garuda, Minggu (7/6/2026).

Untuk bertahan hidup, keduanya mengandalkan bantuan dari tetangga dan pemerintah. Saat musim panen tiba, beberapa warga kerap berbagi beras. Selain itu, bantuan sosial menjadi penopang utama kebutuhan sehari-hari.

Titi menerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebesar Rp600 ribu setiap tiga bulan, sementara Ma Ukay memperoleh bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dengan nominal yang sama.

KSP: Sekolah Rakyat Harus Jadi Jalan Memutus Rantai Kemiskinan

“Uang bantuan itu kami gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli sayuran di warung,” ucap Titi.

Kondisi tersebut akhirnya mendapat perhatian dari Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Ida Nurlaila Wiradinata. Pada Sabtu (6/6/2026) lalu. Ida datang mengunjungi kediaman Ma Ukay dan Titi di Desa Sindangwangi.

Kunjungan itu menjadi bentuk kepedulian setelah kisah kehidupan keduanya ramai diberitakan. Melalui kolaborasi dengan pemerintah desa dan sejumlah pihak, bantuan pembangunan rumah layak huni akhirnya dapat direalisasikan.

“Ini salah satu bentuk kami sebagai wakil rakyat. Apalagi kami diamanatkan oleh rakyat menjadi anggota DPR RI. Tentunya ini salah satu perhatian kepada warga masyarakat yang ada di dapil,” ujar Ida.

Menurut Ida, keluarga Ma Ukay memang membutuhkan perhatian khusus. Selain menghadapi kesulitan ekonomi, keduanya juga harus berjuang dengan keterbatasan fisik dan persoalan kesehatan.

Kustiwa Adinata Wakili JAMTANI di Dewan AOI Nasional, Dorong Penguatan Pertanian Organik di Pangandaran

“Saat ini memang warga memerlukan bantuan rumah yang layak untuk dihuni dan sudah kami berikan,” katanya.

Ia menjelaskan, pembangunan rumah tersebut terwujud berkat kerja sama berbagai pihak.

“Kami bekerja sama dengan Pak Kuwu dan pihak lainnya. Alhamdulillah akhirnya bisa terbentuk rumah yang layak,” ujarnya.

Bagi Ida, bantuan tersebut bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bentuk kehadiran negara bagi warga yang benar-benar membutuhkan.

“Yang menerima bantuan memang orang yang perlu kita bantu. Salah satu anaknya tidak bisa melihat, sementara ibunya sendiri dalam kondisi sakit dan mengalami gangguan pendengaran,” ucapnya.

Kini, Ma Ukay dan Titi tidak lagi tinggal di gubuk sempit yang dulu menjadi saksi perjuangan hidup mereka. Rumah yang lebih layak telah berdiri, membawa harapan baru bagi ibu dan anak yang selama bertahun-tahun bertahan dalam kesunyian dan keterbatasan.

Selain meninjau langsung kondisi keluarga tersebut, Ida juga menyalurkan bantuan sembako kepada warga sekitar serta menyerap berbagai aspirasi masyarakat dalam kegiatan silaturahmi tersebut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *