BANDUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan tidak akan menutupi setiap kasus begal yang terjadi di Kota Bandung.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, seluruh aksi kriminalitas akan dipublikasikan sebagai bentuk transparansi sekaligus meningkatkan kewaspadaan masyarakat, di tengah maraknya kasus begal dalam beberapa waktu terakhir.
Farhan mengatakan, Pemkot Bandung bersama Polrestabes Bandung sepakat untuk mengekspos setiap kasus begal yang terjadi. Setelah pelaku berhasil ditangkap, hasil penindakannya juga akan disampaikan kepada publik.
“Saya bersama Pak Kapolres sudah berkesepakatan bahwa setiap kejadian begal itu memang kita expose. Tujuannya satu, kita waspada. Dua, para aparat juga sudah melakukan penindakan. Nanti kalau sudah ada hasil penindakan kita pasti akan publikasikan lagi,” kata Farhan Kamis (16/7/2026).
Farhan menilai maraknya aksi begal di Kota Bandung dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari tekanan ekonomi hingga meningkatnya angka kekerasan yang kerap terjadi saat masa libur sekolah.
“Ada beberapa hal. Satu, tekanan ekonomi. Dua, memang siklus setiap memasuki libur sekolah ini pasti agak tinggi tingkat kekerasannya. Nanti begitu sekolah mulai akan turun lagi,” katanya.
Meski begitu, Farhan menegaskan Pemkot Bandung tidak akan menutup-nutupi kondisi keamanan di lapangan. ia memastikan, setiap kasus kriminal akan ditangani secara terbuka dan menjadi bahan evaluasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
“Kita dalam penanganan masalah ini enggak mau pura-pura aman. Kita apa adanya saja. Apa yang ada itu yang kita tangani langsung. Mudah-mudahan nanti angkanya makin lama makin menurun. Minggu depan saya akan rapat lagi dengan Forkopimda untuk mengetahui perkembangannya,” ucapnya.
Farhan juga menyoroti keterlibatan pelaku di bawah umur dalam sejumlah aksi kriminal. Menurutnya, penegakan hukum tetap dilakukan, namun prosesnya mengikuti ketentuan perlindungan anak.
Ia mengaku khawatir kelompok kriminal justru memanfaatkan anak-anak untuk melakukan aksi kejahatan karena adanya perlakuan hukum yang berbeda.
“Kalau sudah melanggar hukum kita pasti tindak. Tetapi penindakannya berbeda karena mereka adalah pelaku di bawah umur. Nah itu yang saya khawatirkan. Jangan-jangan upaya-upaya perlindungan itu dijadikan sebagai upaya rekrutmen masuk ke dalam kelompok-kelompok kekerasan,” ungkapnya.
Terkait keberadaan Satgas Anti Begal, Farhan memastikan tim tersebut telah bekerja dan memberikan dampak dalam menekan angka kriminalitas. Menurutnya, tanpa keberadaan satgas, kondisi keamanan bisa lebih buruk.
“Sudah berperan. Kalau enggak ada itu jauh lebih parah lagi. Sekarang kalau ada begal kita pasti langsung tangkap, dan terekspos,” pungkasnya.
(Mugni)


Komentar