Bandung Raya Inspirasi Jawa Barat
Home » Berita » 32 Tahun Jualan Keliling Bandung, “Bandros Bapak Asep” Kini Viral Berkat Konten Sang Anak

32 Tahun Jualan Keliling Bandung, “Bandros Bapak Asep” Kini Viral Berkat Konten Sang Anak

Bandung, garudajabar.tv – Selama 32 tahun, Bapak Asep mendorong gerobak bandros dari kawasan Kopo untuk berjualan keliling Kota Bandung. Pekerjaan yang telah dijalaninya selama puluhan tahun ini menjadi satu-satunya mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kini, setelah sekian lama berjualan tanpa nama usaha, bandros miliknya yang dikenal dengan nama Bandros Bapak Aku mulai dikenal lebih luas melalui media sosial berkat sang anak.

Perjalanan Bapak Asep berjualan bandros bermula ketika ia mengikuti saudaranya. Dari pengalaman tersebut, ia kemudian menekuni usaha bandros hingga bertahan selama 32 tahun. Setiap harinya, ia harus menempuh perjalanan dari Kopo menuju sejumlah kawasan di Bandung sambil mendorong gerobaknya untuk menjajakan dagangan.

Berjualan di jalanan tentu bukan perkara mudah. Selain harus menempuh perjalanan yang panjang, Bapak Asep juga beberapa kali menghadapi penertiban oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Salah satu pengalaman yang cukup unik terjadi ketika gerobaknya diangkut oleh petugas. Bapak Asep ikut masuk ke dalam mobil bersama gerobaknya. Saat itu, bandros yang tersisa masih cukup banyak, hingga petugas yang bertugas pun ikut membeli bandros dagangannya.

Di balik pengalaman tersebut, ada perjuangan seorang pedagang yang terus bertahan di tengah berbagai tantangan. Selama puluhan tahun, Bapak Asep tetap menjalani pekerjaannya karena berjualan bandros merupakan satu-satunya sumber penghasilannya.

Lamine Coffee & Bakery Hadir di Pangandaran, Tawarkan Kuliner hingga Fasilitas Olahraga

Dari Jualan Tanpa Nama hingga Ditonton Jutaan Kali

Selama bertahun-tahun, Bapak Asep berjualan tanpa nama usaha khusus. Bandros yang dijualnya juga awalnya hanya tersedia dalam varian original. Namun, perjalanan usahanya mulai berubah ketika sang anak, Salsabila, memperkenalkan aktivitas berjualan ayahnya melalui akun TikTok @sabiiiiiiil_.

Sebenarnya, Salsabila sudah mulai membuat konten tentang ayahnya sejak 2024. Beberapa video sempat masuk FYP, tetapi saat itu ia belum konsisten mengunggah konten. Baru pada 2026, Salsabila mulai rutin membagikan keseharian sang ayah saat berjualan.

Di luar perkiraannya, kebiasaan tersebut ternyata membawa dampak besar bagi usaha Bandros Bapak Aku. Salah satu video yang diunggah di akun TikTok-nya bahkan mencapai sekitar 1,1 juta tayangan.

“Sebenernya udah dikontenin dari 2024, sempet FYP juga, tapi sempet nggak konsisten. Terus di 2026 mulai rajin ngonten bapak jualan per hari dan ternyata impact-nya gede banget,” cerita Salsabila.

KSP: Sekolah Rakyat Harus Jadi Jalan Memutus Rantai Kemiskinan

Menurutnya, salah satu hal yang membuat banyak orang tertarik mungkin karena jajanan tradisional seperti bandros kini mulai sulit ditemukan. Melalui konten yang diunggahnya, orang-orang yang sebelumnya belum mengenal bandros Bapak Asep jadi mengetahui keberadaan jajanan tersebut dan tertarik untuk mencobanya.

“Mungkin karena sekarang jajanan kayak gini udah mulai susah dicari, jadi pas lihat konten aku, banyak yang mau,” lanjutnya.

Perubahan tersebut turut dirasakan langsung oleh Bapak Asep. Ia mengaku, setelah konten sang anak ramai diperbincangkan, pembelinya semakin banyak. Pesanan pun tidak hanya datang dari pembeli yang ingin menikmati bandros secara langsung, tetapi juga untuk kebutuhan acara dalam skala besar.

“Jadi laku dan banyak yang kenal bapak, dan banyak yang order, bahkan ada yang pesen buat acara gede juga,” ungkap Bapak Asep.

Bagi Salsabila, dampak yang dirasakan keluarganya bukan hanya soal peningkatan penjualan. Ia juga merasa terharu melihat semakin banyak orang yang mengenali ayahnya ketika berjualan.

Kustiwa Adinata Wakili JAMTANI di Dewan AOI Nasional, Dorong Penguatan Pertanian Organik di Pangandaran

“Sekarang semenjak dikontenin, udah banyak yang nyapa bapak aku. Aku jadi terharu banget,” tambahnya.

Bagi Bapak Asep, bantuan sang anak memiliki arti tersendiri. Setelah puluhan tahun berjualan dengan cara berkeliling, ia kini bisa menjangkau lebih banyak pelanggan berkat konten yang dibuat Salsabila. Ia pun berterima kasih kepada anaknya yang telah membantu memperkenalkan usaha Bandros Bapak Aku tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.

Bandros dengan Adonan Melimpah dan Kelapa yang Padat

Selain kisah perjuangan penjualnya, bandros Bandros Bapak Aku juga memiliki daya tarik dari adonannya yang melimpah dengan kelapa yang padat. Ciri khas ini menjadi salah satu hal yang membuat bandrosnya menarik untuk dicoba.

Bandros dijual dengan harga mulai dari Rp10.000 hingga Rp17.000. Bagi sebagian pembeli, menemukan kembali jajanan tradisional seperti bandros bisa menjadi pengalaman tersendiri, terutama ketika makanan tersebut mengingatkan mereka pada jajanan yang pernah dinikmati sebelumnya.

Kehadiran konten di media sosial turut membuka kesempatan bagi jajanan yang dijual secara sederhana untuk menjangkau pelanggan baru. Melalui video Salsabila, orang-orang yang sebelumnya belum mengenal Bapak Asep dapat mengetahui keberadaan penjual bandros ini dan mencari tahu lokasi tempatnya berjualan.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana media sosial dapat membantu mempertemukan jajanan tradisional dengan generasi yang lebih luas. Di balik video yang ditonton banyak orang, tetap ada proses panjang seorang pedagang yang selama puluhan tahun mempertahankan mata pencahariannya.

Berharap Memiliki Tempat Berjualan yang Menetap

Meski kini semakin dikenal, Bapak Asep masih memiliki harapan sederhana untuk masa depannya. Ia ingin mempunyai tempat berjualan yang menetap agar tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh setiap hari dari Kopo menuju kawasan Cihampelas dan lokasi lainnya di Bandung.

“Harapan Bapak, semoga ke depannya punya tempat yang menetap, jadi nggak perlu jalan-jalan terus. Soalnya sudah jualan 32 tahun, sudah capek juga. Dari Kopo ke Cihampelas itu bisa dua jam, jadi ingin punya tempat berjualan yang menetap,” ujar Bapak Asep.

Saat ini, Bapak Asep masih berjualan secara berpindah-pindah mengikuti jadwal dan lokasi yang biasa didatanginya. Pada Senin hingga Kamis, ia berjualan di sekitar Puskesmas Pasir Kaliki dan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Pada Sabtu, ia berada di sekitar RS Cicendo, sedangkan pada Minggu ia berjualan di sekitar RS Santosa dan GKI Kebon Jati. Ia libur berjualan setiap Jumat.

Perjalanan Bapak Asep menunjukkan bahwa di balik jajanan yang terlihat sederhana, terdapat perjuangan panjang untuk mempertahankan usaha dan memenuhi kebutuhan hidup. Selama 32 tahun, ia terus mendorong gerobaknya menyusuri jalanan Bandung. Kini, dengan bantuan sang anak yang memperkenalkannya melalui media sosial, usaha Bandros Bapak Aku semakin dikenal dan mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

Bagi Bapak Asep, perhatian yang datang melalui media sosial bukan sekadar tentang viralnya sebuah video. Lebih dari itu, perhatian tersebut membawa harapan agar usahanya bisa terus bertahan dan suatu hari nanti memiliki tempat berjualan sendiri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *