BANDUNG – Tak ada perjalanan panjang yang benar-benar mudah. Bagi HollowTr!ps, seperempat abad bermusik adalah kisah tentang bertahan, berganti personel, bereksperimen dengan warna musik, hingga akhirnya tiba di satu titik penting: meluncurkan mini album perdana.
Momen itu dirayakan melalui “Showcase Party: HollowTr!ps (E.P Launching) x Dheephoosty (Launching Album)” di Jabrix Hotel & Coffee Entertainment, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Minggu (26/7/2026). Bukan sekadar konser, malam itu menjadi perayaan perjalanan dua band independen yang memilih terus berkarya di tengah dinamika industri musik.
Sorak penonton sejak sore menjadi saksi bagaimana karya-karya baru akhirnya menemukan panggungnya. Di atas panggung yang sama, HollowTr!ps merilis EP bertajuk “Death Obsession”, sementara Dheephoosty memperkenalkan album terbarunya kepada publik.
Bagi HollowTr!ps, peluncuran EP tersebut memiliki makna emosional. Band yang berdiri sejak 2001 itu baru berhasil merilis karya rekaman resmi setelah 25 tahun menapaki perjalanan musik.
Sekilas, judul “Death Obsession” terdengar gelap. Namun, maknanya jauh dari kesan menyerah. Album itu menggambarkan obsesi para personelnya untuk terus berkarya hingga akhir hayat. “Obsesi mati” dimaknai sebagai komitmen yang tak pernah padam terhadap musik.
Filosofi serupa juga melekat pada nama HollowTr!ps. Kata “hollow” berarti rongga, sedangkan “trips” berarti perjalanan. Keduanya dipadukan sebagai simbol perjalanan panjang yang dipenuhi berbagai rintangan. Huruf “i” yang diganti menjadi tanda seru (!) menjadi penegasan bahwa HollowTr!ps serius menjadikan musik sebagai jalan hidup.
Perjalanan band ini memang tidak singkat. Awalnya digawangi Dany Normansyah (Agus Nyno), Ginanjar (Gingin), dan Asep (Bogel), HollowTr!ps mengusung musik grunge dengan pengaruh kuat dari Nirvana, Stone Temple Pilots, Soundgarden, hingga Pearl Jam.
Seiring waktu, personel berganti dan warna musik berkembang menuju modern rock tanpa meninggalkan akar grunge yang menjadi identitas mereka.
Kini HollowTr!ps diperkuat oleh Dany Normansyah sebagai vokalis, Adnan di gitar utama, Yadi pada bass, Edwin di drum, serta seorang additional guitarist yang bergabung pada Juli 2026.
Peluncuran Album Dheephoosty
Dheephoosty hadir meluncurkan album terbarunya “Heaven”. Band yang gawangi Adie Laster (guitarist), Rudy (drummer), Nirmala Winz (Female Vocalist), Azies (Male Vocalist), Chandra (bassist), Cepi Herawan (Guitarist), Vayulia (Female Vocalist), Gunawan (Violinist), menampilkan tiga lagu “Nyanyian Sunyi”, “Pujangga”, dan “Egois”.
Selain penampilan kedua band, tampil pula Mantra Surugana ikut memperkuat kemeriahan showcase. Panggung juga diisi penampilan Wen & The Wknders, Robert Rockers, Moxide, M.Y.C, Shout For Hate, Eat That Soup, Little Chaos, hingga Rumah Sakit Jiwa.
Tak hanya menyuguhkan musik, kawasan Jabrix juga dipenuhi booth UMKM dan stan merchandise yang menjadi ruang temu antara musisi, pelaku usaha kreatif, dan para penikmat musik independen.
Selama tujuh jam, mulai pukul 15.00 hingga 22.00 WIB, panggung menjadi ruang nostalgia sekaligus harapan baru. HollowTr!ps menutup penantian panjang selama 25 tahun dengan sebuah EP yang lahir dari keteguhan, sementara Dheephoosty membuka babak baru lewat album terbarunya.
Di tengah derasnya arus musik digital, malam itu membuktikan bahwa semangat komunitas, persahabatan antarmusisi, dan panggung independen masih menjadi denyut penting bagi ekosistem musik Bandung. Bagi HollowTr!ps, Death Obsession bukanlah cerita tentang kematian, melainkan tentang tekad untuk terus hidup melalui karya. (Imn)


Komentar