Pangandaran, garudajabar.tv – Penyakit jantung koroner merupakan salah satu masalah kesehatan serius yang perlu diwaspadai karena dapat memicu serangan jantung hingga menyebabkan kematian. Mengenali gejala sejak dini dan segera mendapatkan penanganan medis menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Hal tersebut dibahas dalam kegiatan NGOBATAN (Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan) bertema “Penyakit Jantung Koroner: Kenali Sebelum Terlambat” yang digelar pada Kamis (1/10/2026). Materi disampaikan oleh dr. Nalagafiar Puratmaja, BMedSc (Hons), Sp.JP, FIHA, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RSUD Pandega Pangandaran.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa gejala serangan jantung kerap disalahartikan sebagai masuk angin atau angin duduk. Padahal, gejala tersebut dapat menandakan kondisi serius akibat terganggunya aliran darah menuju otot jantung.
Salah satu gejala yang perlu diwaspadai adalah nyeri atau rasa tidak nyaman di dada, terutama di bagian tengah atau kiri. Rasa nyeri dapat terasa seperti tekanan, himpitan, atau sensasi tertindih benda berat.
Nyeri tersebut juga dapat menjalar ke lengan, bahu, rahang, hingga punggung. Gejala lain yang dapat menyertai antara lain keringat dingin, mual, dan muntah.
Jika mengalami gejala yang mengarah pada serangan jantung, masyarakat diimbau segera mencari pertolongan medis di instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit terdekat. Penanganan tidak boleh ditunda karena penyumbatan pembuluh darah koroner dapat menyebabkan otot jantung kekurangan oksigen dan mengalami kerusakan.
Semakin lama aliran darah terganggu, semakin besar risiko kerusakan otot jantung. Kondisi tersebut dapat menurunkan kemampuan jantung dalam memompa darah dan memicu gagal jantung. Gejalanya antara lain sesak napas, mudah lelah, dan pembengkakan pada kaki.
Penyakit jantung koroner terjadi ketika pembuluh darah yang memasok darah ke otot jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan, umumnya akibat penumpukan plak. Akibatnya, pasokan darah dan oksigen yang dibutuhkan jantung untuk bekerja secara optimal menjadi terganggu.
Untuk memastikan diagnosis dan menentukan penanganan yang tepat, dokter dapat melakukan sejumlah pemeriksaan, di antaranya elektrokardiogram (EKG) serta pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien. Pada kasus tertentu, angiografi koroner diperlukan untuk mengetahui lokasi dan tingkat penyumbatan pembuluh darah.
Penanganan penyakit jantung koroner dapat dilakukan melalui pemberian obat-obatan maupun tindakan medis sesuai kondisi pasien. Salah satunya adalah pemasangan ring jantung atau stent untuk membantu membuka pembuluh darah yang menyempit. Sementara itu, operasi bypass dapat menjadi pilihan pada pasien dengan kondisi penyumbatan tertentu untuk membuat jalur baru bagi aliran darah menuju otot jantung.
Dokter juga mengingatkan bahwa penyakit jantung koroner tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia. Faktor risiko dan pola hidup tidak sehat dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini, termasuk pada kelompok usia yang lebih muda.
Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih memperhatikan kesehatan jantung, menerapkan pola hidup sehat, serta mengenali gejala yang berpotensi mengarah pada serangan jantung. Nyeri dada, terutama jika disertai tanda bahaya lainnya, tidak boleh dianggap sepele.
Melalui kegiatan edukasi kesehatan tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya deteksi dini dan penanganan medis secara cepat untuk mengurangi risiko komplikasi akibat penyakit jantung koroner.


Komentar