Jawa Barat Pangandaran
Home » Berita » Apdesi Pangandaran Minta Milangkala ke-14 Digelar Sederhana, Soroti Beban Anggaran Desa dan Kesulitan Warga

Apdesi Pangandaran Minta Milangkala ke-14 Digelar Sederhana, Soroti Beban Anggaran Desa dan Kesulitan Warga

Pangandaran, garudajabar.tv – Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kabupaten Pangandaran meminta pemerintah daerah mengevaluasi dan meninjau ulang rangkaian perayaan Milangkala atau hari jadi ke-14 Kabupaten Pangandaran. Apdesi mengusulkan agar peringatan tahun ini diselenggarakan secara sederhana dengan mengutamakan kegiatan yang lebih bermakna bagi masyarakat.

Aspirasi tersebut disampaikan menyusul kondisi keuangan pemerintah desa yang dinilai semakin terbatas, sementara masyarakat di sejumlah wilayah menghadapi persoalan kebutuhan air bersih dan ancaman penurunan hasil pertanian akibat kekeringan.

Ketua DPC Apdesi Kabupaten Pangandaran, Dedi Hermawan, mengatakan usulan tersebut merupakan bentuk kegelisahan bersama para kepala desa yang setiap hari berhadapan langsung dengan persoalan masyarakat di tingkat akar rumput.

Menurutnya, pelaksanaan peringatan hari jadi daerah perlu mempertimbangkan kondisi keuangan pemerintahan desa serta situasi sosial yang sedang dihadapi masyarakat.

Beban Anggaran dan Operasional Desa Jadi Sorotan

Dedi mengungkapkan, kondisi fiskal pemerintah desa saat ini menghadapi tekanan akibat pemangkasan dan penyesuaian alokasi anggaran, termasuk perubahan pada sejumlah program bantuan dari pemerintah provinsi.

Lamine Coffee & Bakery Hadir di Pangandaran, Tawarkan Kuliner hingga Fasilitas Olahraga

Di tengah keterbatasan tersebut, keterlibatan pemerintah desa dalam rangkaian kegiatan Milangkala dinilai berpotensi menambah beban pengeluaran operasional.

Ia mencontohkan sejumlah kebutuhan yang harus dipersiapkan untuk mendukung kegiatan, mulai dari latihan paduan suara selama berminggu-minggu, pengadaan seragam, konsumsi, hingga partisipasi dalam karnaval atau arak-arakan seni.

“Kebutuhan untuk rangkaian kegiatan itu cukup besar. Latihan paduan suara saja butuh waktu berminggu-minggu, belum seragam dan konsumsi dari awal sampai hari puncak. Anggaran Rp10 juta saja tidak akan cukup. Para kepala desa tentu sangat terbebani jika seremonial ini dipaksakan,” terang Dedi.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu mempertimbangkan kembali skala kegiatan agar tidak menimbulkan beban tambahan bagi pemerintah desa, terutama ketika anggaran yang tersedia harus diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kepala Desa Soroti Kondisi Warga di Tengah Ancaman Kekeringan

Selain persoalan anggaran, Apdesi juga menyoroti aspek kepatutan dan kepekaan sosial dalam penyelenggaraan perayaan hari jadi daerah.

Kustiwa Adinata Wakili JAMTANI di Dewan AOI Nasional, Dorong Penguatan Pertanian Organik di Pangandaran

Dedi menyebut, masyarakat di sejumlah wilayah pedesaan tengah menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih. Kekeringan juga dikhawatirkan berdampak terhadap lahan pertanian dan hasil panen warga.

Dalam situasi tersebut, menurutnya, pemerintah daerah perlu menunjukkan keberpihakan melalui kebijakan dan kegiatan yang selaras dengan kebutuhan masyarakat.

“Masyarakat kita di bawah sedang kesulitan air bersih dan gagal panen. Pandangan masyarakat tentu beragam melihat situasi ini. Rasanya sangat kurang elok kalau pemerintah dan aparatur desa malah berhura-hura atau berjoget ria di tengah penderitaan warga. Kami para kepala desa merasakan betul beban moral tersebut,” tegasnya.

Ia menilai, perayaan hari jadi tidak semestinya hanya berorientasi pada kemeriahan seremonial. Momentum tersebut justru dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kepedulian sosial dan mendorong penyelesaian persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Apdesi Usulkan Doa Bersama dan Istigasah

Dedi menegaskan, aspirasi yang disampaikan Apdesi bukan berarti para kepala desa menolak peringatan hari jadi Kabupaten Pangandaran. Menurutnya, dukungan terhadap pembangunan dan kemajuan daerah tetap menjadi komitmen bersama.

Audiensi ke DPRD Ciamis, Perwakilan MBG Solid Dukung Keberlanjutan Program

Namun, ia menekankan pentingnya menyesuaikan bentuk perayaan dengan kondisi yang sedang dihadapi masyarakat.

Apdesi pun mengusulkan agar rangkaian Milangkala ke-14 dilaksanakan sesederhana mungkin, dengan mengedepankan kegiatan doa bersama dan istigasah sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon keselamatan serta kebaikan bagi Kabupaten Pangandaran.

“Demi Pangandaran tentu kami sangat mendukung, ini hanya masalah waktu dan situasi. Kami menyarankan perayaan digelar sesederhana mungkin. Jauh lebih bermakna jika kita mengadakan doa bersama atau istigasah memohon agar alam kembali bersahabat dan masyarakat Pangandaran keluar dari masa-masa sulit,” ucap Dedi.

Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan yang sederhana tidak akan mengurangi makna peringatan hari jadi. Sebaliknya, langkah tersebut dapat menjadi wujud empati pemerintah terhadap masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan.

Pemda Diharapkan Evaluasi Skala Perayaan

Aspirasi Apdesi tersebut menjadi pengingat bahwa peringatan hari jadi daerah perlu mempertimbangkan kemampuan anggaran, kebutuhan pelayanan publik, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Evaluasi terhadap rangkaian kegiatan Milangkala ke-14 diharapkan dapat membuka ruang bagi penentuan prioritas yang lebih proporsional, termasuk memastikan agar keterlibatan pemerintah desa tidak menambah beban keuangan yang seharusnya dapat digunakan untuk kepentingan warga.

Bagi Apdesi, esensi peringatan hari jadi bukan semata-mata kemeriahan acara, melainkan momentum untuk memperkuat kebersamaan, meningkatkan kepedulian, dan meneguhkan komitmen pemerintah dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Dengan mempertimbangkan kondisi yang berkembang, pemerintah daerah diharapkan dapat menampung aspirasi para kepala desa dan menentukan bentuk perayaan yang tetap bermakna tanpa mengabaikan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Pangandaran.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *