Bandung, garudajabar.tv — Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Layanan Pendampingan Spiritual, Emosional, dan Kemanusiaan (Chaplaincy) dalam Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial”. Kegiatan ini menjadi ruang akademik dan praktis untuk memperkaya wawasan mengenai peran layanan pendampingan spiritual, emosional, dan kemanusiaan dalam mendukung penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
Seminar dihadiri sekitar 650 peserta, yang terdiri atas Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Pemberdayaan dan Penanganan Fakir Miskin, Ishaq Zubaedi Raqib, Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Pemberdayaan Pegiat Penyelenggara Kesejahteraan Sosial Aswandi , tamu undangan dari Kementerian Sosial, para dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa Poltekesos.
Kegiatan diawali dengan sambutan Direktur Poltekesos, Suharma. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dan arahan sekaligus pembukaan seminar secara resmi oleh Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Pemberdayaan dan Penanganan Fakir Miskin, Ishaq Zubaedi Raqib.
Seminar menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki pengalaman dan kepakaran dalam penyelenggaraan layanan sosial berbasis pendampingan spiritual, emosional, dan kemanusiaan. Para narasumber tersebut yaitu RR Rhetno Arobiatul Jauzak, peneliti sekaligus penulis buku Muslim Chaplaincy Indonesia; Sri Nurhayati dari Yayasan Pondok Inabah Suryalaya yang bergerak dalam penanganan rehabilitasi korban penyalahgunaan NAPZA; Ecek Karyan, Ketua Yayasan Anugrah Bhakti Barokah yang menangani rehabilitasi bagi orang dengan gangguan jiwa; Eka Sukmawati dari Yayasan Welas Asih yang bergerak dalam layanan bagi lanjut usia; serta Elsi Hariyati Sarimin, Sekretaris Pelayanan Wanita Teritorial.

Penyampaian materi dimoderatori oleh Wakil Direktur Bidang Akademik Poltekesos, Lina Favourita Sutiaputri. Sesi seminar berlangsung dalam format dialog interaktif sehingga peserta tidak hanya mendapatkan pemaparan dari para narasumber, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menggali pengalaman, praktik, serta tantangan dalam pelaksanaan layanan pendampingan spiritual, emosional, dan kemanusiaan di berbagai konteks pelayanan sosial.
Beragam perspektif yang disampaikan para narasumber menunjukkan bahwa pendampingan dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik dan sosial, tetapi juga perlu memperhatikan dimensi spiritual, emosional, dan kemanusiaan penerima layanan. Pendekatan tersebut menjadi relevan dalam berbagai situasi, termasuk rehabilitasi korban penyalahgunaan NAPZA, pendampingan orang dengan gangguan jiwa, pelayanan lanjut usia, serta layanan sosial lainnya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Sejumlah peserta mengajukan pertanyaan dan menyampaikan pandangan kepada para narasumber, sehingga tercipta diskusi yang hangat, dinamis, dan interaktif. Dialog tersebut menjadi kesempatan bagi sivitas akademika Poltekesos untuk memperluas pemahaman sekaligus menghubungkan perspektif akademik dengan pengalaman praktik di lapangan.
Melalui seminar nasional ini, Poltekesos terus mendorong penguatan kapasitas dan wawasan sivitas akademika serta para pegiat kesejahteraan sosial dalam mengembangkan pendekatan pelayanan yang komprehensif, humanis, dan responsif terhadap kebutuhan penerima layanan.
Kegiatan seminar ditutup dengan rangkaian dialog bersama para narasumber dan peserta sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pendidikan, praktik pelayanan sosial, dan pengembangan layanan kesejahteraan sosial di Indonesia.


Komentar