Tasikmalaya, garudajabar.tv – Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong peningkatan ekonomi petani mulai digencarkan di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Kelompok Tani Herti Cirando, Desa Cisayong, Kecamatan Cisayong, resmi melakukan penanaman perdana bawang merah varietas Mutiara Galuh di lahan seluas 3 hektare.
Program tersebut diproyeksikan menjadi pilot project pengembangan bawang merah di wilayah Priangan Timur, dengan target produksi minimal 10 ton per hektare dan peluang mencapai 15 ton per hektare.
Ketua Kelompok Tani Herti Cirando, Ogi Fathurzaman, mengatakan penanaman perdana ini bukan sekadar kegiatan pertanian biasa, tetapi menjadi langkah awal untuk mengembangkan Cisayong sebagai salah satu kawasan penghasil bawang merah.
“Kami berharap penanaman perdana ini menjadi tonggak awal agar Cisayong dikenal sebagai daerah penghasil bawang merah yang mampu menopang ketahanan pangan,” ujar Ogi, Kamis (17/9/2026).
Penanaman dilakukan secara gotong royong oleh anggota kelompok tani bersama masyarakat sekitar. Varietas Mutiara Galuh dipilih karena dinilai memiliki kualitas umbi yang baik, produktivitas tinggi serta daya tahan terhadap penyakit.
Dengan luas tanam mencapai 3 hektare, pengembangan bawang merah tersebut diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga membuka peluang distribusi ke pasar regional.
Ogi menambahkan, pengembangan komoditas hortikultura tersebut menjadi salah satu upaya untuk memberikan alternatif usaha bagi petani selain mengandalkan tanaman padi.
“Kami ingin petani di Cisayong tidak hanya bergantung pada komoditas padi, tetapi juga memiliki alternatif tanaman hortikultura bernilai ekonomi tinggi. Bawang merah Mutiara Galuh ini bisa menjadi solusi,” katanya.

Inisiator penanaman bawang merah Kabag Dalpers Polda Jawa Barat AKBP Hidayatullah, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun model pengembangan komoditas pangan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
“Alhamdulillah hari ini kita bersama-sama melakukan penanaman bawang merah. Mudah-mudahan pilot project ini berhasil dengan target minimal 10 ton per hektare, bahkan kalau bisa tembus 15 ton,” ujar Hidayatullah.
Ia mengatakan pihaknya juga mendorong semangat kelompok tani melalui pemberian apresiasi apabila target produksi dapat tercapai. “Kami siap memberikan bonus kepada kelompok tani agar lebih semangat,” katanya.
Menurut Hidayatullah, pengembangan bawang merah saat ini telah dilakukan di sejumlah wilayah Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya. Total lahan yang telah ditanami disebut mencapai sekitar 8 hektare.
Sebelumnya, hasil panen bawang merah di Desa Wanasigra tercatat mencapai sekitar 8 ton per hektare.
Hidayatullah optimistis produktivitas di Cisayong dapat meningkat karena kondisi lahan dinilai mendukung.
“Kultur tanah di Cisayong lebih bagus, sehingga kami optimis hasil panen akan meningkat dan kesejahteraan petani ikut terdongkrak,” ujarnya.
Pengembangan bawang merah tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi di tingkat petani. Dalam jangka panjang, program ini juga diarahkan menuju hilirisasi agar hasil panen memiliki nilai tambah.
Hidayatullah mengungkapkan adanya rencana pembangunan pabrik bawang di Kabupaten Ciamis serta pengembangan produk turunan berupa minyak bawang melalui kerja sama dengan pemerintah daerah.
Menurutnya, pengembangan dari sektor budidaya hingga pengolahan diharapkan mampu membangun ekosistem usaha bawang merah yang memberikan manfaat lebih besar bagi petani.
“Harapan kami, ketahanan pangan nasional bisa diwujudkan. Tidak perlu lagi impor bawang merah, justru kita siap mengekspor ke luar negeri,” tegasnya.
Pengembangan lahan bawang merah di Cisayong pun diharapkan menjadi bagian dari upaya memperluas sentra produksi hortikultura di Priangan Timur.
Jika produktivitas dan kualitas hasil panen dapat dipertahankan, komoditas tersebut berpotensi membuka rantai usaha baru, mulai dari budidaya, penyerapan hasil panen, perdagangan hingga pengolahan produk.
Kolaborasi antara kelompok tani, masyarakat, pemerintah daerah dan pihak terkait menjadi faktor penting agar pilot project tersebut tidak berhenti pada penanaman perdana, tetapi berlanjut menjadi usaha pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
(Bieboy)


Komentar