Ciamis Inspirasi Jawa Barat
Home » Berita » Puluhan Perajin di Ciamis Sulap Daun Pandan Jadi Produk Bernilai Ekspor, Libatkan Ibu Rumah Tangga hingga Remaja

Puluhan Perajin di Ciamis Sulap Daun Pandan Jadi Produk Bernilai Ekspor, Libatkan Ibu Rumah Tangga hingga Remaja

Puluhan ibu rumah tangga dan remaja mengolah daun pandan di Dusun Citapen Landeuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis

CIAMIS – Warisan budaya berupa kerajinan anyaman daun pandan terus bertahan di Dusun Citapen Landeuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Puluhan ibu rumah tangga dan remaja putri di daerah tersebut mengolah daun pandan menjadi beragam produk bernilai ekonomi yang kini bahkan mulai menembus pasar internasional.

Di Bale Dusun Citapen Landeuh, para perajin setiap hari memproduksi berbagai kerajinan seperti sandal, tempat berkas, tas mini, tas ransel, hingga topi berbahan dasar daun pandan. Aktivitas tersebut tidak hanya menjadi upaya melestarikan tradisi turun-temurun, tetapi juga membuka peluang usaha bagi masyarakat, khususnya kaum perempuan.

Kepala Dusun Citapen Landeuh, Nana Suryana, mengatakan tanaman pandan telah tumbuh di wilayahnya selama sekitar 70 tahun. Selama ini, daun pandan lebih banyak dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan tikar atau samak pandan.

“Selama ini kebanyakan dimanfaatkan untuk membuat samak pandan. Sekarang kami bersama kelompok perajin mencoba mengembangkan berbagai produk agar pasarnya lebih luas,” kata Nana, Sabtu (1/8/2026).

Menurutnya, sekitar 30 persen warga di dusun tersebut masih membudidayakan tanaman pandan. Untuk meningkatkan nilai jual, masyarakat mulai berinovasi mengolahnya menjadi produk ekonomi kreatif yang memiliki nilai tambah dibandingkan produk tradisional.

Lamine Coffee & Bakery Hadir di Pangandaran, Tawarkan Kuliner hingga Fasilitas Olahraga

Proses pengolahan daun pandan pun tidak sederhana. Setelah dipanen, daun dibelah menjadi iratan sesuai kebutuhan produk. Untuk pembuatan tikar, iratan dibuat selebar 0,8 hingga 1 sentimeter, sedangkan untuk tas dan topi ukurannya sekitar 0,5 sentimeter.

Selanjutnya, daun direbus, direndam semalaman, lalu dijemur hingga benar-benar kering sebelum siap dianyam. Proses tersebut membuat warna daun berubah dari hijau menjadi putih, sehingga di kalangan perajin dikenal dengan istilah “putihan”.

Upaya pengembangan produk tersebut mulai membuahkan hasil. Melalui jaringan mitra yang bergerak di bidang ekspor, topi anyaman pandan hasil karya warga berhasil menarik minat pembeli dari Turki.

“Alhamdulillah ada rekan yang bergerak di bidang ekspor. Saat pulang kampung mereka melihat produk kami, lalu memperkenalkannya kepada buyer dari Turki yang akhirnya membeli topi hasil kerajinan warga,” ujar Nana.

KSP: Sekolah Rakyat Harus Jadi Jalan Memutus Rantai Kemiskinan

Selain meningkatkan ekonomi masyarakat, budidaya pandan juga dinilai memberikan manfaat bagi kelestarian lingkungan. Warga memiliki sumber penghasilan alternatif tanpa harus bergantung pada hasil hutan.

Sementara itu, Ketua Kelompok NTK Pandan Craft, Eti Datiah, mengatakan kelompoknya kini fokus memproduksi tas mini dan topi anyaman pandan. Produk-produk tersebut telah dipasarkan ke berbagai daerah seperti Yogyakarta, Cirebon, Bogor, dan Bekasi, bahkan telah digunakan di Korea Selatan.

Menurut Eti, kelompok NTK dibentuk sebagai upaya melestarikan warisan leluhur yang mulai ditinggalkan generasi muda. Ketika permintaan tikar pandan menurun, para perajin berinovasi menciptakan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Kami ingin memberdayakan warisan leluhur. Dulu pandan hanya dibuat tikar, sekarang kami kembangkan menjadi berbagai anyaman agar lebih diminati. Alhamdulillah ibu-ibu muda sekarang mau ikut berkarya,” katanya.

Ia berharap semakin banyak perempuan di desanya yang dapat memperoleh penghasilan tambahan melalui kerajinan anyaman pandan, sekaligus menjaga keberlangsungan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Kustiwa Adinata Wakili JAMTANI di Dewan AOI Nasional, Dorong Penguatan Pertanian Organik di Pangandaran

Dengan inovasi dan pemasaran yang terus berkembang, kerajinan anyaman pandan dari pelosok Ciamis membuktikan bahwa produk berbasis kearifan lokal mampu bersaing di pasar nasional hingga mancanegara.(bieboy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *