BANDUNG – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan, sistem pengawasan berbasis teknologi yang dimiliki saat ini masih memadai untuk mendukung upaya pencegahan aksi begal dan kriminalitas jalanan. Karena itu, Pemkot belum berencana melakukan peningkatan sistem (upgrade) pada Command Center.
Menurutnya, langkah yang menjadi prioritas saat ini mengoptimalkan operasional Command Center selama 24 jam, memperluas sosialisasi layanan darurat, serta menambah perangkat pendukung di sejumlah titik yang dinilai rawan.
Farhan menjelaskan, Kota Bandung memiliki tiga pusat pemantauan, yakni Command Center Dinas Perhubungan di Gedebage, Area Traffic Control System (ATCS) di Balai Kota, dan Bandung Command Center (BCC) di Balai Kota. Saat ini, yang perlu diperkuat adalah penambahan personel agar seluruh pusat kendali tersebut dapat beroperasi optimal selama 24 jam.
“Sebetulnya kita enggak pernah berhenti, 24 jam. Tapi memang yang perlu ditambah shift-nya adalah yang punya Dishub. Kita punya tiga, yaitu di Dishub Gedebage, ATCS di Balai Kota, dan Bandung Command Center di Balai Kota. Yang di Dishub dan ATCS perlu ditambah shift-nya sehingga bisa 24 jam,” kata Farhan di Sport Jabar Arcamanik Kota Bandung Jumat (24/7/2026).
Selain memperkuat Command Center, Pemkot Bandung juga akan menggencarkan sosialisasi layanan darurat kepada masyarakat. Ia menilai masih banyak warga yang belum mengetahui keberadaan nomor layanan darurat nasional maupun fitur Panic Button yang tersedia di aplikasi milik Pemkot Bandung.
“Panic Button sebetulnya ada di aplikasi. Mungkin sosialisasinya belum masif. Bahkan banyak masyarakat yang belum tahu nomor 112. Padahal 112 untuk berbagai macam pengaduan, 113 khusus kebakaran, dan 119 untuk kegawatdaruratan kesehatan. Itu berlaku nasional,” katanya.
Farhan menegaskan, infrastruktur teknologi yang dimiliki Pemkot Bandung belum memerlukan peningkatan sistem (upgrade). Menurutnya, cukup dilakukan pemeliharaan rutin serta penambahan perangkat seperti speaker di kawasan yang dinilai rawan, sesuai arahan Gubernur Jawa Barat.
“Enggak perlu upgrading. Maintenance perlu, tapi upgrading enggak perlu. Tinggal nambah saja. Usulan Pak Gubernur untuk menambah speaker di beberapa titik rawan akan kita tambahkan,” katanya.
Farhan menambahkan, penanganan begal tidak bisa mengandalkan satu langkah. Pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, kepolisian, hingga masyarakat.
“Tidak mungkin kita menemukan satu cara ajaib yang membuat semua langsung selesai. Jadi semua dikerahkan, pasang lampu, pasang CCTV, gerakkan siskamling. Pak Gubernur punya cara, kepolisian juga punya cara sesuai kewenangannya. Kita harus bergerak bersama-sama,” pungkasnya.
(Mugni)


Komentar