CIAMIS – Stigma negatif terhadap mantan narapidana masih kerap menjadi tantangan saat mereka kembali ke tengah masyarakat. Namun, Yayasan Anugerah Insan Residivis (AIR) Kabupaten Ciamis berupaya mematahkan anggapan tersebut dengan menghadirkan wadah pembinaan, pelatihan, dan pemberdayaan bagi para eks narapidana agar dapat menjalani kehidupan yang lebih baik.
Ketua Yayasan AIR Ciamis, Ali Yulchowas, mengatakan yayasan tersebut berdiri sejak 2022 sebagai tempat bagi para mantan narapidana untuk saling berbagi pengalaman, memberikan motivasi, serta membangun semangat agar tidak kembali terjerumus ke dalam tindakan yang melanggar hukum.
“Orang yang baru bebas dari lapas biasanya rentan, bingung mencari pekerjaan, dan belum memiliki arah. Karena itu, kami hadir untuk saling menguatkan agar mereka bisa bangkit dan menjalani hidup yang lebih baik,” ujar Ali saat ditemui, Rabu (22/7/2026).
Yayasan AIR mengusung tagline “Dari Residivis Bisa Berkarya, Produktif, dan Kreatif”. Menurut Ali, pesan tersebut terus ditanamkan kepada seluruh anggota sebagai motivasi bahwa mantan narapidana juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia menjelaskan, perubahan seseorang sangat dipengaruhi oleh dukungan sosial yang positif, baik dari keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar. Selain itu, kesadaran diri, motivasi yang kuat, kesempatan belajar, pendampingan, hingga apresiasi juga menjadi faktor penting dalam proses perubahan.
“Harapan kami, jangan lagi memberikan stigma negatif kepada mantan residivis. Mereka juga ingin berubah dan mampu berkarya jika diberi kesempatan,” katanya.
Ali menuturkan, tujuan utama Yayasan AIR adalah mewujudkan mantan narapidana yang aktif, kreatif, produktif, sejahtera, serta berakhlak mulia. Melalui yayasan ini, para anggota diharapkan dapat memperoleh pekerjaan yang layak sehingga tidak kembali mengulangi kesalahan di masa lalu.
Sebagai bentuk nyata pemberdayaan, Yayasan AIR telah mengembangkan berbagai kegiatan produktif, di antaranya pembuatan alat pancing belut, joran pancing, koja, budidaya ikan, hingga pembuatan tas dari limbah.
Bahkan, produksi alat pancing belut telah menerima pesanan hingga ratusan kodi. Proses pembuatannya juga melibatkan kolaborasi dengan warga binaan Lapas Kelas IIB Ciamis sebagai bagian dari pembinaan keterampilan.
Tak hanya bergerak di bidang ekonomi, Yayasan AIR juga rutin menggelar kegiatan sosial. Setiap bulan, yayasan memberikan santunan kepada anak yatim dan lanjut usia sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat.
“Kami berharap ke depan ada dukungan dari pemerintah melalui pelatihan keterampilan agar para eks napi memiliki keahlian yang lebih baik. Apa pun masa lalu kami, sekarang kami ingin bertobat dan hadir dengan karya yang bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Ali.
Sementara itu, Pembina Yayasan AIR, Ipan, mengatakan keberadaan yayasan diharapkan mampu menghapus stigma negatif yang selama ini melekat kepada mantan narapidana.
Menurutnya, Yayasan AIR menjadi wadah perubahan bagi para eks napi sebelum kembali sepenuhnya ke tengah masyarakat serta dapat memberikan kontribusi nyata di bidang sosial, ekonomi, dan budaya.
“Saya berharap Yayasan AIR terus berkembang dan mampu memberikan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat, sekaligus membuktikan bahwa mantan narapidana juga bisa menjadi pribadi yang produktif dan bermanfaat,” pungkasnya. (bieboy)


Komentar