Bandung – Mudzakarah Nasional ANNAS III (Aliansi Nasional Anti Syiah Indonesia), yang digelar di Grand Asrilia Hotel, Bandung, pada Minggu, 26 April 2026, menjadi ruang konsolidasi umat dalam merespons dinamika ideologis yang kian kompleks.
Forum ini dihadiri oleh lebih dari 400 peserta dari berbagai daerah, yang terdiri atas ulama, tokoh masyarakat, akademisi, serta aktivis organisasi Islam. Sebanyak 140 peserta di antaranya merupakan perwakilan cabang dan badan otonom ANNAS.
Ketua Umum ANNAS Pusat, Athian Ali M. Da’i, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara komitmen keagamaan dan tanggung jawab kebangsaan. “Menjaga akidah dan keutuhan bangsa bukanlah dua hal yang dipertentangkan; keduanya harus berjalan beriringan sebagai tanggung jawab umat,” ujarnya.
Ia menyebut forum ini sebagai ruang bersama untuk memperkuat kesadaran kolektif sekaligus menyusun langkah konkret dalam menghadapi tantangan ideologi.
Menurutnya, potensi konflik harus diantisipasi sejak dini. Ia menekankan bahwa keyakinan adalah hak setiap individu, namun ekspresi yang berpotensi memicu gesekan di ruang publik perlu dijaga.
“Memiliki keyakinan adalah hak setiap orang.” “Namun, ketika hal tersebut disampaikan ke ruang publik dan berpotensi menimbulkan konflik, situasi itu harus diantisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan,” ujarnya.
Forum ini mengusung tema menjaga keutuhan bangsa dengan fokus pada perlindungan akidah dan penguatan persatuan nasional.
Athian menambahkan bahwa dari sisi keagamaan, kesucian ajaran harus tetap dijaga, terutama dari tindakan yang mencederai nilai-nilai keyakinan umat.
“ANNAS hadir untuk bekerja sama dan berkoordinasi dengan pemerintah serta aparat guna mencegah potensi perpecahan,” tegasnya.
Ia juga menanggapi anggapan yang menyebut sikap tersebut sebagai bentuk intoleransi. Menurutnya, penegakan hukum terhadap pelanggaran, termasuk penodaan agama, tidak dapat disamakan dengan sikap intoleran.
“Pelanggaran pidana tidak dapat ditoleransi dan harus dicegah,” ujarnya.
Melalui forum ini, ANNAS menegaskan perannya sebagai kekuatan strategis umat dalam menjaga akidah dan memperkuat kesadaran kolektif.
“Dari Bandung, kami menegaskan bahwa umat harus hadir dengan kesadaran, pengetahuan, dan langkah yang terarah,” pungkas Athian.
Hasil pembahasan forum tersebut ditetapkan dalam sidang paripurna sebagai Rekomendasi Mudzakarah Nasional ANNAS III.
“Rekomendasi ini kami tujukan kepada pemerintah, aparat penegak hukum, dan umat Islam sebagai kontribusi pemikiran dalam menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Jawa Barat, Iwan Nuryan, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi isu ideologi.
“Isu ideologi tidak hanya berada di ruang keagamaan, tetapi juga berkaitan erat dengan stabilitas nasional. Oleh karena itu, peran pemerintah dan masyarakat harus berjalan beriringan,” kata Iwan. Forum bertema “Antisipasi Gerakan Syiah dalam Menjaga Keutuhan Bangsa” ini menghadirkan sejumlah narasumber nasional, di antaranya Rizal Fadhilah, Syamsudin Arif, Anton Minardi, Mei Soetrisno, Farid Ahmad Okbah, dan Lailurrahman.
Diskusi tidak hanya berlangsung pada tataran wacana, tetapi juga dilanjutkan dengan sidang komisi untuk membahas konsolidasi organisasi serta perumusan program kerja mendatang.


Komentar